resolusi 2012

tak ada resolusi tahun ini.
evaluasi itu setiap saat bukan setiap tahun
kata ustadz khotib jum’at tadi siang.

gelar itu,…

dan saya pun bertanya,…

apakah titel itu harus saya sandingkan, kemudian saya gadang-gadangkan di belakang nama saya?

pertanyaan yang aneh, yang kemudian membuat saya tersenyum miris.

*betapa murahnya sebuah titel yang hanya bisa diukur dari kepingan mata uang, baca: beli gelar*

great mondays

Hari yang menjanjikan, matahari bersinar tidak terlalu terik. Udara juga sejuk.
Mari beraktivitas dengan semangat!
Mendulang rejeki dan barokah hari ini

Posted with WordPress for BlackBerry.

konsistensi

Satu posting sehari jauh lebih baik daripada sepuluh posting setiap enam bulan sekali.

Posted with WordPress for BlackBerry.

antara harap dan nyata

ketika kau harap bahagia, bersiaplah untuk bersedih
ketika kau harap memiliki, bersiaplah untuk kehilangan
ketika kau harap mencintai, bersiaplah untuk dikecewakan
ketika kau harap sesuatu, bersiaplah untuk kebalikannya

*terinspirasi oleh the murphy’s law

menghampiri titik nol

Alhamdulillah, mudik juga. Kalau minjam istilah mang jamal, Mudik, back to udik when our humble life was started. Padahal saya mudik ke kampung halaman istri.

Ajang mudik kali ini sengaja saya dahulukan kepergiannya, saya izin cuti ke kantor. Sejenak melepaskan penat, dan menarik nafas yang cukup panjang untuk kegelisahan saya yang tidak kurang panjangnya.

Maaf, saya merasa jenuh dengan hidup saya sendiri. Terlihat sarkas dan kasar memang, tapi itu yang saya rasakan. Seolah hanya menjadi bagian dari rutinitas saja, kantor kampus rumah seperti itu setiap hari. Banyak agenda yang terpaksa harus saya delay, karena kesulitan mendongkrak mood yang cenderung turun duluan. Harus secepatnya mencari tujuan dan target baru untuk dikejar, memanaskan kembali tungku semangat yang sudah mulai redup sedu sedan itu.

Well, I need time for myself. Mungkin itu jawabannya. Sejenak berlari dari kehidupan nyata yang super hectic, untuk memacu kecepatan yang luar biasa super di esok harinya. Membiarkan hati ini menyelami bagian terdalam yang sudah saya acuhkan atas keegoisan dan ambisi untuk menaklukan dunia (lebay deh).

saatnya reorganize the engine, got some fuel, then go!!!

dua langkah tanpa terbata

Qisthy dan Sepatu Abah

kemarin baru saja dia lahir, rasanya baru kemarin. persis baru kemarin. sekarang sudah jago merajuk kalau ada inginnya, terutama ingin jalan-jalan ke luar rumah. biasanya kami mengenalkan dan memakaikannya alas kaki sebelum berjalan-jalan ke luar rumah, tapi tadi pagi secara tidak sadar ia mencoba sepatu butut abahnya seraya memanggil, bah … bah …

pada kesempatan lain, lihatlah bagaimana bersemangatnya berlari tanpa alas kaki menuju gerbang rumah agar kita mencepatkan langkah menujunya.

dan kini ia menemukan mainan baru, kucing tetangga :D temannya berlari saling kejar mengejar

life is so beautiful. alhamdulillah.

hargai saya, kamu, dia

judulnya memang aneh, tapi intinya adalah betapa banyaknya orang yang tidak
mengetahui bagaimana caranya menghargai diri sendiri, orang lain, dan orang lain.

dua kali saya ulang menghargai orang lain, karena areanya sangat luas sekali. bisa jadi kita menganggap sesuatu sebagai hal biasa, tetapi ketika berhubungan dengan orang lain maka hal itu harus kita pertimbangkan ulang. banyak candaan yang dianggap hal yang lumrah, ternyata untuk pihak tertentu akan sangat sensitif sekali.

betapa banyak orang yang terjebak kebiasaan mencela tanpa dapat menerima ketika dirinya dicela, merasa banyak tahu padahal tidak tahu, merasa penting padahal kontribusinya minim, merasa pintar dan bisa menghakimi padahal tidak kompeten.

memang itu sifat dasar manusia, merasa lebih dan cenderung egosentris, superior dan tidak mau kalah. tapi kemudian manusia diberikan akal dan moral, untuk dijadikan bekal dalam mengarungi ruang kehidupan. kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan secara vertikal dan horizontal, dengan ruang privat dan publik yang tidak bisa saling diacuhkan. begitu kita keluar dari ruang privat, maka kita akan berhadapan dengan ruang publik yang sudah pasti beririsan dengan ruang publik milik orang lain.

antara aku, dia, dan tukang becak

ruang publik

iya, ini memang ruang publik
tapi apakah ini artinya saya harus berdiam diri?
tersudut karena tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam benak saya?
padahal ini beranda rumah saya sendiri, halaman rumah saya sendiri

Posted with WordPress for BlackBerry.

kebiasaan, pola yang bisa diubah

Kebiasaan adalah hal-hal yang bisa dirubah, sedikit demi sedikit suatu saat akan bisa berubah total. Sifat, ini bawaan yang sama juga bisa dirubah, sedikit demi sedikit. Tapi watak? Ini relatif sulit.

Dari kecil, orang di rumah selalu mengajarkan untuk bisa tepat janji, kapanpun itu. Sebisa mungkin, jika tidak bisa, maka kita harus memberitahu lawan janji kita, agar ia bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan tanpa janji.
Janji itu utang, bukan hal yang bisa dimain-mainkan. Karena kita bermain dengan waktu milik orang lain :)

*mengingatkan diri sendiri*

Posted with WordPress for BlackBerry.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.