voucher dari NGtravelerID
sebentuk hati, dalam sebuah buku
senja itu angin bertiup sedang
cuaca agak sedikit panas menjelang hujan
di antara rak buku, yang berjejer rapi
kusapu pandanganku memastikan tak ada buku yang terlewat
wanita itu menyapaku ramah
ia nampak sadar kebingunganku
dengan lembut ia bertanya
apa yang bisa dibantunya
dengan senyum malu aku membalasnya, mencari komik kataku
dan ia menunjukkan tangga, memintaku mengikutinya menaiki.tangga ke lantai lebih tinggi
kemudian ia mempersilahkanku untuk menemukan yang kucari
padahal aku tak mencari komik
aku mencarinya, dia yang berada di deretan buku sastra populer
buku yang ditulis oleh penyair yang besar di negeri ini
di ujung penanya tercipta
sajadah panjang
rindu rasul
dan
malu aku jadi orang Indonesia
setelah berkeliling tak tentu, ku beranikan menuruni tangga turun kembali
menyapukan mata pada setiap baris kata yang ada pada sampul buku yang berbaris seolah menyambutku
ku temukan ia terselip, dengan sunggingan senyum manis seolah tlah lama menantiku
ya, memang cukup lama bersabar untuk memilikinya,…
ku temukan ia tak di tempatnya, mungkin seseorang telah menyapanya sebelumku
akhirnya kuminta izin pada sang kasir untuk membawanya pergi bersamaku
hujan rintik itu pun tak mampu membendung bahagiaku kembali pulang
….
sepuluh tahun kemudian
aku kembali ke rak itu, mencari kawannya, dan seorang wanita yang membantuku dulu telah memiliki sebuah meja sekarang
kawannya tak ada, tak nampak
apakah ujung pena itu tak menciptakan karya lagi?
aku tak tahu
dan langkah gontai membawaku kembali pulang,…
dalam hati ku berucap lirih
“semoga yang meminjam, sudi kiranya mengembalikan, karena ku tak tahu dimana ia”
aku hanya tersenyum manis, menatap awan,…
tampak bayang pemilik ujung pena itu,…
Taufiq Ismail
pujangga terbesar dalam hidupku.
gadget dan harga
hakikatnya, teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia, dan bukan sebaliknya. namun, yang saya liat sekarang adalah manusia yang dirumitkan teknologi, karena begitu cepatnya perkembangan teknologi jika dibandingkan dengan nilai beli manusia (secara materi tentunya).
ada aspek lain non teknologi yang menempel ketat dan menjadi intangible value, yaitu prestise. harga prestise ini jauh lebih mahal daripada harga teknologinya sendiri. bahkan, untuk sebuah teknologi (gadget) yang menghabiskan dana sebesar x untuk produksi, dilepas ke pasaran senilai 25x. dan laris manis bak kacang goreng. tidak bisa dilepaskan, jika memang dibutuhkan nilai penghargaan bagi si pencetus/orang dibalik penemuan perkembangan teknologi, dan itu sangat wajar sekali. ini adalah alasan yang dapat diterima. karena yang mahal itu ide, buat barangnya!
jika kita tengok sedikit mengenai penelitian yang dibuat oleh lembaga peneliti di luar sana, banyak teknologi yang diciptakan dan men-drive manusia, jadi bukan lagi teknologi yang dituntut keberadaannya oleh manusia. kebutuhan manusia yang seolah-olah membutuhkan teknologi tersebut. padahal sebenarnya, nggak butuh-butuh amat juga. di sinilah peranan pemasaran yang bisa mengubah opini dan wacana, bahwa orang butuh teknologi ini.
nilai beli masyarakat yang rendah (khususnya di Indonesia) memaksa mereka untuk menangguhkan kebutuhan akan gadget dan perangkat teknologi lainnya. namun, pada kenyataannya Indonesia dijadikan pasar dan market-tools, karena apapun yang dijual di Indonesia pasti laku. dengan nilai beli yang rendah saja, gadget-gadget mewah itu laris di pasaran, apalagi jika nilai beli masyarakat yang tinggi. hehe.
lalu, kemana teknologi tepat guna yang dibuat dengan biaya rendah dan berkepentingan langsung/memiliki kontribusi langsung?
atau, apakah dengan keberadaan pabrik-pabrik gadget di Indonesia, lantas akan menurunkan harga dengan alasan ‘pemotongan biaya distribusi dan pajak’
#randomthink
Landy
rinduku tertahan hujan
lupa lagi cara menggunakan mutt!
“bagaimana caranya mengirim email setelah melakukan penyuntingan”
sebenarnya sederhana saja “esc” -> “:wq” -> “y” tapi lupa itu memang menjadikan saya tertunda mengirim email selama beberapa menit. hehe.
sudah lama memang tidak menggunakan mutt untuk melakukan korespondensi surat elektronik, lebih banyak menggunakan thunderbird atau webmail. sehingga beberapa perintah dasar sempat hilang dan lupa harus memencet apa pada keyboard. untung saja lupanya tidak lama. pada saat tulisan ini saya posting, saya sudah ingat lagi bagaimana caranya mengirim email.
menggunakan email berbasis text, terkadang memang lebih menyenangkan. seolah hanya ada saya dan orang yang diajak berkomunikasi, karena memang tidak ada tampilan apa-apa lagi. hehe.








Written
on May 4, 2013