Kerapkali kebiasaan mengendarai seseorang menjadi keluhan, atau bahkan menjadi bahan cemoohan. Entah itu kasar, seenaknya, nyusahin orang lain, dan lain sebagainya. Namun, di balik semua itu terdapat suatu hal yang seringkali diabaikan, yaitu bahasa berkendara.
Kemampuan mengemudikan kendaraan bermotor yang dimiliki ternyata belum tentu seimbang dengan kemampuan di jalanan, atau lebih dikenal dengan istilah jam terbang. Tadi, perjalanan Jakarta – Bandung, banyak diisi dengan kuliah singkat, tentang bahasa berkendara.
Timing, presisi, prediksi, dan pengambilan keputusan di jalanan ternyata memiliki seni tersendiri. Kondisi yang dinamis mengakibatkan sebuah keputusan yang diambil pada satu ruas jalan berbeda dengan ruas jalan yang lain.
Kisah ini diawali dengan sulitnya masuk ruas jalan tol secara silang di Jakarta. Beberapa alasan, salah satu alasannya ada timing dan pengaturan gas kendaraan. Bahkan setelah lolos masih ada beberapa kendala lagi, ruas jalan, aturan baku jalanan, dan kendaraan lain yang nggak mau ngasih jalan. Serta satu hal lagi, karakteristik pengemudi kendaraan yang lain. Karakteristik yang berbeda, kebutuhan akan waktu, dan lain sebagainya akan mempengaruhi kondisi lalu lintas di jalan. Hal ini tentunya tidak berpengaruh jika kita berada di jalan dengan ruas yang lebar dan debit kendaraan yang kecil.
Bahasa berkendara adalah bahasa yang digunakan oleh para pengemudi untuk berkomunikasi dengan pengemudi yang lain. Ada yang nampak dan ada yang tidak. Sebagai contoh ada yang memberi lampu (sign) ketika akan mendahului, tapi ada juga yang hanya memberi klakson.
Kadang kala bahasa ini sangat rumit, begitu pula yang saya rasakan kini. Menuliskannya pun terasa sulit. (dah lama nggak ngeblog sih)
njritt … “kebiasaan mengendarai seseorang”. buruan kawin ajah mang!!, jangan jadi kebiasaan!. wakakaka ….
By: ipans on July 27, 2007
at 5:25 pm
“kebiasaan dalam berkendaraan” atau “kebiasaan saat mengemudi” kali ya?
By: iffata on July 27, 2007
at 11:58 pm
hahaha, ipans ‘ngeres’
)
By: roisz on July 28, 2007
at 5:52 pm
weis, beda euy supir mah.
/* kabur */
By: Rully on July 30, 2007
at 4:53 pm
ke bojong, pak (sambil menepuk pundak om rois) yang duduk di depan
By: indra kh on August 2, 2007
at 2:49 am