kala benar-benar aku ingat mati.
siapkah aku mati?
kulihat rekening koran, surat deposito, kontainer logam berharga, dan perhiasanku di Bank Akhirat.
wow, bahkan namaku hanya tercantum sebagai pemilik rekening pasive
tak ada tambahan sama sekali sejak aku aqil baligh
jikapun ada, hanya berupa recehan atas do’a kedua orang tuaku atas ku
waduh, gawat ini
bagaimana mungkin ini terjadi
bahkan untuk tiket ke perempatan surga pun tidak cukup sama sekali
kuteguhkan diri, barangkali ada rekening lain atas namaku, kutanya petugas di teller
aku : mbak, apa ada rekening pahala lain atas nama saya, mohon dicek lagi
petugas : maaf, hanya ini yang ada, itupun belum terkena potongan atas hutang, kebencian, iri dan dendam, serta perasaan tidak enak dari orang lain terhadap anda selama di dunia
aku : apa potongannya banyak
petugas : maaf, belum bisa saya berikan jawabnya sekarang, silahkan bapak tunggu sejenak
keadaan semakin gawat
kulihat sekeliling, apakah ada angkutan kembali ke dunia, ke masa lalu, ketika aku masih kecil dulu
agar bisa kutata dengan baik alur hidupku
aku terbangun dalam senyak, sesak nafas, hanya bisa kuucap Alhamdulillah, kakiku masih menginjak tanah, dan aku masih bernafas
“bangun pagi, tarik nafas, buang nafas, bertahan hidup untuk hari ini, dan hari esok untuk kehidupan yang lebih baik”
-hanya copy paste
By: akyu on June 18, 2008
at 8:43 am