lama-lama memang bisa gila, itu adalah kalimat yang tercetus kala mendengar gumam seorang penjaja barang dagangan yang sudah tiga hari tidak berhasil menjual barang dagangannya. kuberanikan untuk bertanya
“memangna kunaon kang?” tanyaku (memangnya kenapa, kang?)
“ieu den, tos tilu dinten meni teu acan ngalarisan” (ini den, sudah tiga hari belum ada penglarisnya)
“oh” balasku
“muhun da, pami teu disabaran mah, panginten tiasa gelo kieu teh, tapi da percaya bapak mah, rejeki mah tos aya nu ngatur, ngan kadang teu karaos we ku urang” balasnya (iya, sebenarnya kalau tidak diiringi rasa sabar, bisa gila jadinya. tapi saya percaya kalau rejeki sudah ada yang ngatur, tapi kita saja yan kadang tidak merasanya kalau rejeki itu ada bersama kita)
setelah satu dua tiga kalimat saling bertukar, akhirnya sang bapak pun berlalu bersama dagangannya.
memang sepantasnya harus lebih banyak bersyukur, setidaknya masih banyak orang di luar sana yang kurang beruntung jika dibandingkan dengan kondisi kita saat ini. Subhanallah, Walhamdulillah.