Orang yang melepaskan penatnya dengan berbagai cara, ada yang membaca buku, browsing Internet, main game, mengebut di jalanan, bahkan ada juga yang sekadar bersantai minum kopi atau teh di cafe.
Saya sendiri sudah mencoba semuanya, tapi tidak ada yang mengalahkan sebuah cara yang mungkin sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu sering saya lakukan. Nongkrong di sawah hijau. Ternyata kebiasaan itu berlaku pula untuk orang lain, setidaknya ada 3 atau 4 orang yang memiliki kesamaan.
Masih ingat rasanya, suatu waktu di Kuningan, ketika salah satu orang petani melarang saya untuk turun bersamanya ketika mereka sedang tandur (tanam mundur), katanya tidak pantas saya berkotor-kotor bersama lumpur dan mereka. Tanpa mereka sadar, bahwa sebenarnya saya adalah seorang mahasiswa pertanian. Tapi saya bersikeras untuk ikut serta bersama mereka, mengimplementasikan apa yang saya dapatkan di kelas. Lama kelamaan, para petani itu aneh juga, mengapa nampaknya saya terbiasa dengan apa yang mereka lakukan. Ketika istirahat bersama, barulah mereka mengetahui bahwa saya seorang mahasiswa pertanian.
Selepas kejadian itu, hampir setiap hari saya menghabiskan senja yang dimiliki bersama sebuah buku di saung. Kadang bersama anak-anak bermain layangan di pematang sawah, atau sekedar bercanda bersama mereka, menceritakan kisah-kisah sukses yang semoga saja menjadi inspirasi bagi mereka.
Kebetulan pula, saya memiliki saudara di Cianjur sana yang di rumahnya masih banyak sawahnya, setidaknya di sana saya masih bisa mendapatkan air bening di sawah, dan bermain di tengah-tengah sawah. Waduh, nikmatnya

Kapan-kapan ajak aku dong Is, ke sawah. Ok? Ok!
By: za on July 11, 2008
at 4:16 pm