Posted by: roisz | July 14, 2009

Terima Kasih, Tuhan

“Pernahkah kita membayangkan jika seandainya satu saja dari kenikmatan kita miliki diambil kembali oleh sang pemiliknya?”

Manusia terlahir dengan berjuta nikmat atas kuasa Ilahi. Tak terasa tapi itu ada jika disadari dengan penuh. Saya katakan tak terasa karena kita tidak pernah merasa-rasakannya. Kita anggap itu sebagai sebuah kejadian biasa saja, padahal tidak seperti itu. Akan ada perubahan antara satu dan dua hal, tapi ya itu tadi, kita anggap sebagai sebuah hal yang biasa saja.

Tadi pagi, jalanan macet sekali, kerap kali saya suka menyesali jika berangkat ke Bojong pagi-pagi, karena tidak ada bedanya dengan berangkat satu jam kemudian, karena satu jam yang hilang tersebut ada di kemacetan jalan. Tapi, tidak begitu yang ada di kepala saya. Ada ritme tertentu yang akan mengacaukan jam biologis jika mengikuti keinginan untuk berangkat satu jam lebih akhir. Kemalasan akan mendera hingga sore hari, karena ujung2nya di jalan sudah terasa malas, dan tidak terbawa suasana hiruk pikuk pagi hari di jalan kopo yang lenglang dan kosong, nyaris tak macet (kalau anda melewatinya jam 3 dini hari, jam biasa jangan pernah berharap).

Kemarin, di perjalanan pulang ke bojong bareng Rully tak sengaja mendengarkan i-radio yang mengetengahkan bahasan tentang hipnotheraphy. Ada satu hal yang menarik yang saya tangkap dari siaran tersebut. Bahwa sebenarnya tubuh kita bisa diberikan perlakuan yang dapat mengakibatkan tubuh tersugesti secara positif. Jadi hipnotis tidak melulu tentang keburukan, dan kejahatan saja. Semalam di acara the master untuk master hipnotis, baru mendapatkan gambaran bahwa alam bawah sadar kita memiliki semacam mekanisme perlindungan jika perintah hipnotis itu berlawanan dengan nilai moral manusia. Tapi tetap saja, mengerikan.


Leave a response

Your response:

Categories