Masker Kang Emil

Pandemik covid-19 yang mengubah seluruh tatanan dunia, sehingga kalau istilah para petinggi Sunda Empire mah, Tatanan DUnia Baru alias New World Order, bahkan jauh sebelum saya mendengar istilah tersebut dari para Petinggi Sunda Empire, saya sudah sering dengar di film-film, termasuk film favorit saya, Zorro.

Padahal sesungguhnya, dunia akan selalu berubah, dan saat ini yang terjadi adalah New Normal, alias hidup kita udah nggak normal lagi. Bahkan, Ridwan Kamil selalu Gubernur Jawa Barat mengistilahkan dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), yang sesungguhnya tidak ada hubungan dengan  Akihabara atau AKIBA alias Japanese Idol yang termasyhur sedunia.

Salah satu hal yang menjadi signifikan saat ini adalah gerakan sering mencuci tangan, menggunakan masker, dan membawa hand sanitizer kemana-mana. Untuk urusan masker ini, Kang Emil yang memang seorang arsitek mendesain motif masker Megamendung, sebuah pola/corak khas Batik Cirebon. Saya memberanikan diri meminta masker ini pada salah satu tim beliau, eeh dikasih. Bukan dari satu orang, melainkan 3 orang sekaligus memberikan masker tersebut pada saya. Alhamdulillah, ini mah rejeki.

Masker kang emil cukup sederhana motifnya, tapi elok dan cantik. Motif ini bisa diproduksi bebas oleh siapa saja, bahkan kita bisa meminta langsung desainnya jika kita mau buat ulang untuk dimanfaatkan.

Salah satu yang ngasih masker ini ke saya adalah Kang G. Beliau kebetulan punya stok, dan saya diberinya. Nuhun, kang.

Mumpung maskernya masih baru, difoto dulu laah. Sebut saja Ninja Naruto, karena kalau mau bikin Boy Bands, usia kami sudah tidak memenuhi syarat untuk diklasifikasikan sebagai Boys :D. Walaupun frase Boys will be Boys, akan tetap berlaku selamanya. Itu mah sudah hukum alam yang ditetapkan sebagai sebuah fenomena keabadian. hahaha

Harus lebih produktif

Kerja dengan model Work From Home (WFH) atau bahkan Flexible Working Hours (FWH) sebenarnya sudah kami terapkan sejak beberapa belas tahun yang lalu. Kami boleh tidak ke kantor, yang penting pekerjaan selesai dan hasilnya sesuai alias perform.
Nah, dengan model bekerja seperti ini, sebenarnya memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu, hanya saja kadang kita mengikuti kemauan dengan lebih sibuk di area-area non produktif.
Bahkan, ada teman saya yang sampai berujar, bahwa kegiatan yang saya lakukan harus lebih bernilai ekonomi atau menghasilkan uang. Wah, ini PR. Sementara selama ini, saya lebih sering melakukan pekerjaan atau kegiatan yang membuat saya bahagia, urusan uang yang datang dari pekerjaan atau kegiatan itu saya pikirkan belakangan, bahkan tidak saya pikirkan sama sekali.
Rejeki itu sudah tersebar, semoga kegiatan-kegiatan yang saya lakukan di jalan yang benar dalam menjemput rejeki-rejeki itu, dan tentunya saya selalu sehat.

Kurang Minum, akibatnya fatal

Beberapa bulan terakhir ini kepala saya sering sakit sekali. Padahal istirahat cukup, olahraga cukup kurangnya, dan aktivitas biasa saja. Tapi, mungkin karena aktivitas yang biasa saja, maka saya sering kali mengabaikan minum air putih. Mungkin karena tidak cepat merasa haus.

Hingga pada akhirnya, setiap jam-jam tertentu, kepala rasanya sakit sekali. Berat di bagian belakang, bahkan kadang terasa berputar seperti bintang-bintang yang berotasi di kepala, selayaknya di film kartun ketika si tokoh kena gendir palu raksasa.

Pada kondisi normal, saya cukup banyak minum. Biasanya pakai tumbler sehingga bisa dihitung kasar berapa banyak minum setiap jangka waktu tertentu, nah karena sering di rumah, lupa tuh minum, karena minum langsung pakai gelas. Ah, harus lebih sering lagi nih minum air putih. Padahal saya sadar, semakin banyak minum air putih, semakin segar pula wajah ini, tidak tampak loyo, bahkan kulit pun lebih cerah dan tidak mudah kisut.

Kemarin baca artikel, jika asupan cairan dalam tubuh kurang, maka tubuh akan memeras cairan dari mana saja, dan kinerja ginjal menjadi lebih berat, kinerja jantung pun sama, karena ada kemungkinan pengentalan darah. Bahkan pada beberapa kondisi dehidrasi berat, tubuh akan protes dan limbung seketika. Kasihan tubuh kita, padahal salah satu bentuk rasa syukur adalah dengan melakukan perawatan sebaik mungkin atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan pada kita. Tubuh ini amanah, sudah seharusnya dijaga dengan sebaik-baiknya.

src img

Roesdi jeung Misnem

Buku Roesdi djeung Misnem terbit di Den Haag, Belanda, pada tahun 1911. Buku ini dulunya adalah buku bacaan untuk murid-murid di Sekolah Sunda. Penulis buku ini adalah Antonie Cornelis Deenik (1879-1929) dan Raden Kanduruan Djajadiredja (1882-1942). Pembuat ilustrasi dalam buku ini adalah W. K. de Bruin (1871-1945), dengan jumlah ilustrasi sebanyak 158 gambar.

Roesdi Jeung Misnem, Edisi Katarsisbook 2020

Akhirnya saya bisa mendapatkan buku ini atas peran kawan saya Om Andre Katarsis yang mencetak kembali buku ini. Waaah, ini sih harta karun. Harus sangat saya jaga bukunya, dan harus secepatnya saya baca agar saya bisa tahu mengapa para orang tua sering mengatakan “Euweuh dina Buku Roesdi Misnem-na oge”.

Mendampingi Kehamilan di Era Pandemi

Mau tidak mau, suka tidak suka, akan banyak adaptasi yang harus dilakukan selama mendampingi kehamilan di era pandemik covid-19 ini.

Beberapa hal yang menjadi catatan selama ini adalah:

  1. jadwal kontrol yang lebih terjadwal, daftar sejauh mungkin agar mendapatkan waktu kontrol yang lebih pagi
  2. penyesuaian kebiasaan yang baru, penggunaan masker, bekal hand sanitizer, kalau perlu bawa makanan dari rumah
  3. bagian paling sulit adalah, mengajak bumil jalan-jalan. area yang terbatas, pembatasan jalan, sehingga bumil agak sulit untuk bisa diajak berjalan kaki dan sebagainya.

Keyboard Mekanik

Nampaknya harus mulai memikirkan pengadaan keyboard mekanik. Penggunaan keyboard yang relatif lebih khas tutsnya dan memang sangat terasa sekali mekanikalnya jika dibandingkan dengan keyboard yang banyak beredar saat ini.

Sayangnya, karena memang keyboard ini sangat ergonomis, dan nyaman digunakan, harga pun ikut menyesuaikan, alias mahal.

2020, punya satu aah.

Istana Maimoon Deli

Istana Kesultanan Deli yang terletak di Jantung Kota Medan ini didesain oleh arsitek Capt. Theodoore van Erp, seorang tentara Kerajaan Belanda yang dibangun atas perintah Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Seandainya saya datang ke sini pada awal tahun 1900an tentunya istana ini akan terlihat sangat megah sekali.

Istana Maimoon Tampak Depan

Dikutip dari wikipedia, pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Saat ini, bagian bangunan yang bisa dimasuki hanya bagian induk saja, sedangkan sisi sayap kiri dan kanan bangunan menjadi tempat tinggal keluarga sultan yang masih ada.

Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan.

Berfoto dengan Pakaian Adat Kesultanan Melayu Deli

Bagian menarik dari kunjungan ke Istana ini adalah kita dapat difoto dengan menggunakan baju adat deli yang dapat disewa di toko merchandise yang ada di dalam istana. Bahkan fotograper pun disiapkan untuk mengambil gambar dan langsung mencetaknya saat itu juga, sehingga foto kita bisa dijadikan sebagai oleh-oleh,

Informasi harga:

  • Tiket kunjungan Rp. 10.000/orang dewasa
  • Sewa baju adat untuk laki-laki Rp. 20.000-200.000 (bergantung asesoris yang disewa)
  • Tour Guide, free atau seikhlasnya

Informasi tentang bagaimana anda bisa mencapai istana maimoon ada di web ini http://irman-novriandi.com/travel/indonesia/sumatera-kepulauan/istana-maimun/

Peranan dalam Hidup

Sadarkah kita, bahwa kita sudah memasuki era peranan, dimana peranan kita sendiri dalam kehidupan akan mempengaruhi kehidupan kita sendiri.

Menyampaikan gagasan adalah sebuah rangkaian panjang yang kerap menjadi kendala. Menyampaikan gagasan adalah bukan sekadar. Gagasan adala sebuah bentuk ejawantah dari hasil pemikiran yang mungkin telah menghabiskan waktu yang sangat banyak.

Menyampaikan gagasan bisa disematkan dimana saja, bergantung kepada gagasan apa yang hendak kita sampaikan. Gagasan itu haruslah bermanfaat dan bisa menjadi solusi atas masalah yang dihadapi, baik itu masalah yang real, sederhana, maupun masalah yang kompleks dan rumit.

Gagasan bisa disematkan pada produk yang kita ciptakan dengan berbagai bentuknya, atau gagasan bisa berupa value (nilai) yang kita sematkan pada sebuah kegiatan atau jasa yang kita berikan pada orang lain.
.
Dimana peranan kita, sesungguhnya di sanalah gagasan itu kita tuangkan. Apalagi, jika gagasan yang kita usung memiliki nilai dan tujuan yang mulia untuk
.
#sbmc
#thelocalenablers
#calakanhq
#value
#ide
#gagasan

Kembali ke Jakarta

biswisata.png

transjakarta Pariwisata

Sudah beberapa hari ini, tepatnya sejak bulan kemarin, saya kembali bertugas di Jakarta. Ah, bertugas di Jakarta ini memang kurang menyenangkan, hahaha. Karena kehidupan saya lebih banyak ada di Bandung, juga karena di Bandung area untuk bermain dan jalan-jalan, serta makanan yang murah lebih mudah. Jauh daripada itu, karena anak dan istri ada di Bandung.

Ada suka dan duka bekerja di beda kota, ada kalanya bertugas itu menjadi sangat menyenangkan ketika mendapatkan lokasi baru atau tantangan yang baru, tapi untuk Jakarta? kemacetan dan tingkat polusi sudah pasti didapatkan.

Untungnya, sekarang ada Grab, Gojek, dan juga layanan transportasi TransJ yang sudah lebih mudah. Karena, kalau setiap hari pakai taksi, bisa jebol dompet. Besar pasak daripada tiang, sudah pasti kejadian.

Jakarta, berbaik hatilah. Jadilah lebih ramah dan menyenangkan.

Eh iya, ini sudah hari kamis, sudah waktunya pulang ke Bandung, hehe

The Air Asia Story

Buku lain yang tengah dibaca minggu ini adalah, “The Air Asia Story, Kisah Maskapai Tersukses di Asia”. Buku ini merupakan terjemahan dari buku aslinya yang berjudul sama, yang ditulis oleh Sen Ze dan Jayne Ng. Sejauh ini, saya tidak menyangka, ternyata terdapat sesuatu hal yang begitu pelik dibalik kisah kesuksesan sebuah maskapai di Asia.

The Air Asia Story, Sen Ze & Jayne Ng

Buku ini saya baca dengan tempo yang lambat, tidak jarang saya berdegup kencang, menahan helaan nafas, karena kisah ini diceritakan begitu indah. Membacanya perlu dengan ketelitian, agar bisa menangkap strategi apa yang tengah dimainkan oleh Tony Fernandes sejak ia mengambil risiko untuk menyelamatkan maskapai Air Asia dengan harga yang sangat murah (lengkap bersama masalah yang ada) hingga menjadikannya raja maskapai di benua Asia.