Aku dan Jatinangor

Jatinangor #2 Tidak terasa kini jatinangor sudah menjadi sebuah kota kecil dengan populasi yang sangat padat. Mungkin jika siang hari akan terlihat banyak sekali mahasiswa mulai dari mahasiswa STPDN -yang lebih dikenal dengan sebutan Praja-, mahasiswa IKOPIN, mahasiswa UNWIM, dan mahasiswa UNPAD, yang berkeliaran dan menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa.

Namun ketika malam beranjak dan tenda-tenda serta warung-warung pinggir jalan didirikan, maka Jatinangor akan berubah menjadi kota restoran. Kita akan dengan mudah mendapatkan jajanan dan makanan dengan harga bervariasi yang tergolong sangat murah. Harga yang murah ini memang menjadi sebuah kelebihan tersendiri, dengan komunitas anak kost yang nota bene sering mengalami masalah keuangan inilah yang menjadikan segala sesuatu di Jatinangor terasa sangat murah, hanya dengan merogoh uang 3000 hingga 5000 rupiah saja kita sudah dapat menikmati hidangan dan makan malam yang nikmat, tapi tentunya jangan bandingkan hidangan yang ada dengan kaf-kafe yang tersebar luas di Bandung dan atau kota besar lainnya.

Hidangan yang tersajipun bervariasi, mulai dari nasi goreng, capcay, hingga soto bahkan pecel lele pun ada. Untuk mahasiswa yang baru dan pendatang yang belum biasa makan dengan jajanan yang seperti itu, mungkin ayam goreng dan sedikit makanan eropa -biasanya steak- bisa sedikit membantu. Begitu lekat kehidupan Jatinangor dengan identitas mahasiswa yang melekat dalam setiap orang yang ada disana.

Anda penasaran kunjungi saja jatinangor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s