Jalan-jalan

Kali ini kedua kaki dijejakkan di Makassar, sebuah kota di pulau burung, Celebes, atau biasa kita mengenalnya dengan istilah pulau Sulawesi. Kota dengan varian suhu antara 30 – 35 derajat Celcius, selisih suhu yang cukup jauh dengan Bandung yang berkisar antara 22 – 28 derajat celcius. Bisa dibayangkan bagaimana suhu terpanas di Bandung dengan suhu terendah di Makassar.

Keberangkatanku kesana membutuhkan waktu sekitar 2 jam beberapa menit saja, dengan menumpangi boeing 737-400. Pesawat yang cukup lapang, namun sayang perjalanan udara kali ini tidak dapat dinikmati, karena pergi maupun kembali berada jauh dari jendela, tapi semuanya terusir dengan keselamatan yang didapatkan selama perjalanan.

Singkat saja di Makassar, hanya empat hari saja. Tugas lapangan ini memang teragenda dengan cukup padat, harus dibuat se-efektif dan se-efisien mungkin agar tidak banyak waktu terbuang percuma. Niatan untuk menunda kepulangan kembali ke Jakarta pupus sudah ketika diberitakan bahwa tiket pesawat yang sudah di-booked tidak dapat dimundurkan karena pesawat sudah mengalami full booked. hiks.

Makanan, satu hal yang menjadi ciri khas Celebes adalah ikan dan ikan. Ikan menjadi komoditas utama untuk bahan makanan sekaligus menjadi makanan khas dari pulau ini. Dengan harga yang relatif terjangkau kita bisa menikmati sajian ikan yang beraneka ragam. Bahkan ikan yang jarang kita temukan di Bandung atau Jakarta. Sebut saja ikan kaneke, sukang, sunu, dan masih banyak jenis ikan yang lainnya. Udang menjadi alternatif jika memang kita tidak terlalu suka pada ikan-ikanan, seperti saya ini. Ada beberapa resto yang dapat saya rekomendasikan, yang pertama adalah RM Nelayan (lupa lagi dimana alamat pastinya) dan RM Lae-lae disekitar jalan Datu Museng. Dua restoran yang menampilkan sajian dengan cara yang berbeda.

Selain ikan, ada makanan khas dari Makassar, yaitu Coto Makassar. Kesempatan kali ini tidak disia-siakan, Coto Makassar Gagak/Rajawali (nama restorannya) menjadi tujuan utama, rasa Coto yang sangat khas memang tiada duanya. hmmm, gurih dan lezat.

Sayang sekali, disana tidak sekalipun merasakan nikmatnya pisang ijo. sigh. Padahal disini bisa banyak terdapat warung-warung atau toko-toko yang menyajikan pisang ijo tersebut.

Untuk objek wisata, tidak satupun yang bisa dikunjungi, maklum saja jadwal disana sangat padat sekali. Hanya beberapa kali sempat melihat Pantai Losari diwaktu malam dan Benteng Fort Rotterdam di waktu malam juga. Mungkin belum rezekinya kali bisa menikmati objek wisata tersebut.

2 comments

  1. Whuaaa….. Roisz dah jalan-jalan aja. Sementara aku masih “terkurung” didudukin gajah.

    Padahal aku suka banget jalan-jalan, melihat dunia luar.

  2. suatu saat, kamu juga bakal ngalamin, segala sesuatu itu ada waktunya. Kalau sudah waktunya, andaikan bumi terbelah dan langit runtuh, pasti akan terlakoni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s