Kembali ke … buku

“ternyata membaca ebooks masih terasa lebih melelahkan bagiku jika dibandingkan dengan membaca buku -teks- seperti biasa”

Rasanya kemampuan membaca khususnya ‘fast reading‘ sudah mulai berkurang. Dulu, biasa baca buku cepat, maksimal tiga hari untuk membaca buku dengan ketebalan 200 halaman. Tapi, tergantung bukunya juga sih. Sekarang, rasanya untuk membaca sebuah buku dengan judul ‘sebuah telaah kritis, Akhirnya kutemukan kebenaran dari Mitra Zaman’ dengan ketebalan tak lebih dari 260 dibutuhkan waktu lebih dari seminggu.Entah mengapa rasanya begitu lama waktu yang didapatkan, apa karena begitu sulit kudapatkan ‘soul‘ dari si penulis hingga harus tiga sampai empat kali kembali ke bab awal hanya untuk sekedar unsur penguatan. Memang, rasanya tidak ingin kulewatkan bagian-bagian yang memang sangat ditekankan oleh penulis buku ini.

Buku berikutnya yang terpaksa ku postponed pembacaannya adalah ‘Keajaiban shalat subuh’ dan ‘do’a orang-orang sukses’, ntar deh bacanya. Karena buku seperti ini tidak membutuhkan telaah kritis dari kedua belahan otak seperti buku yang kusebutkan pertama. Kategori buku yang menggoncang iman jika meminjam phrase dari Triyogo.

Mau tidak mau harus beres sore atau maksimal malam ini, kembali membaca adalah sebuah kebutuhan yang memang harus dipenuhi, karena membaca bisa menggairahkan kembali untuk menulis. Menulis, sebagai sebuah bentuk publikasi, baik itu ide, usulan, kritikan, dan apapun itu, jika memang kita tidak dapat menyampaikan -mempresentasikan- sesuatu secara interaksi symbolistik.

Membaca buku dengan model teks seperti itu rasanya lebih ternikmati jika dibandingkan dengan membaca buku semodel ebooks, walau buku dengan model ebooks pun ku lahap saja jika memang menarik, tapi tidak jarang model ebooks ku cetak –print– kemudian dibaca secara manual. Hal itu kulakukan karena ternyata membaca ebooks masih terasa lebih melelahkan bagiku jika dibandingkan dengan membaca buku -teks- seperti biasa. Jadi belumlah sreg jika kukatakan diriku adalah bagian dari mereka yang ‘paperless‘. Begitulah adanya, walau sehari-hari bergumul dengan laptop lebih dari 8 jam sehari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s