Singapura, Day-01

Antara percaya dan tidak, target hidup lima belas tahun (sejak 2000) yang dituliskan salah satu pointnya akan tercapai hari ini. Sebuah perjalanan jauh, menembus jarak dan perbatasan Negara yang harus dilewati. Ke sebuah negeri di luar Republik Indonesia. Singapura, ternyata negeri ini yang menjadi pijakan pertama langkahku menembus perbatasan Indonesia.

Bangun sedari pagi, bersiap untuk bertolak ke Bandara. Ya, perjalanan kali ini ditempuh dengan menggunakan jasa transportasi udara saja, selain untuk menghemat waktu, biaya yang masih terjangkau menjadi salah satu pilihan utama. Biaya perjalanan tidak menjadi masalah kali ini, karena perjalanan sepenuhnya dibiayai oleh perusahaan tempatku bernaung dan berkontribusi. Tim yang berangkat merupakan gabungan dari DIMS (Yasser, Faraday, dan Budi Sulis) dan IndoCisc (Roisz, Yan, Budi Rahard) sehingga rombongan kami berjumlah 6 orang.

Perjalanan udara ditempuh menuju Batam, Batam dipilih sebagai sebuah alternatif jalur untuk mencari biaya yang lebih rendah, dan waktu tempuh yang sedikit lebih lama (karena niatnya jalan-jalan). Tapi tidak jadi mengapa karena niatnya untuk jalan-jalan (walaupun tersempil sedikit agenda kerja yang harus dikerjakan di sana). Pilihan waktu take off diambil pada pagi hari dengan menggunakan maskapai penerbangan Air Asia, jam 06.40, sehingga harus tiba di Bandara Soekarno โ€“ Hatta jam 05.40 untuk melakukan Check In dan persiapan lainnya, termasuk sarapan di Bandara. Alhamdulillah, cuaca cerah sehingga penerbangan dilakukan dengan lancer tanpa halangan dan tanpa penundaan (delayed), cuaca yang cerah dan hal lain yang mendukung mengantarkan kami 15 menit lebih cepat dari jadwal penerbangan yang ada di Bandara Hang Nadim Batam.

Tiba di Bandara Hang Nadim Batam, kami langsung Batam Centre, salah satu pelabuhan yang ada di Batam selain Nongsa, Sekupang dan lainnya. Ada dua kapal besar (Ferry) yang biasa digunakan untuk menyeberang ke Singapura, Penguin dan Batam Fast. Kapal yang dipilih adalah Penguin karena jam berlayarnya yang masih satu jam, sehingga cukup untuk digunakan makan siang terlebih dahulu, tiket yang dibeli sudah termasuk airport tax dan boarding pass. Setelah mendapatkan tiket dan membayar Fiskal, langsung makan siang dulu, karena masih ada satu jam sampai waktu kapal melepas jangkar. Restoran Padang merupakan pilihan, setidaknya daripada fast food, masakan Padang merupakan sebuah solusi yang paling masuk akal untuk memenuhi perut yang masih kosong ini.

Waktu penyeberangan yang dibutuhkan sekitar 40 menit dari Batam Centre ke Harbour Front Singapura. Sebelum memasuki kapal, pemeriksaan paspor dan berkas keimigrasian dilakukan di Batam untuk mendapatkan dokumen tanda kedatangan dan keberangkatan (keluar dari Indonesia) yang akan digunakan setibanya di Singapura dan digunakan untuk kembali memasuki Indonesia.

 

Perjalanan dengan menggunakan Ferry betul-betul dapat dinikmati. Cuaca cerah dan ombak yang tidak terlalu besar mengiringi perjalanan yang dilakukan. Tidak ada goncangan yang kuat yang ditemui, semua berjalan lembut. Jarak pandang yang jauh memungkinkan tampaknya pulau-pulau dan pemandangan laut yang begitu Indah, terpaan angin laut yang menyegarkan mengembalikan ingatanku sewaktu melintas selat pemisah antara Pulau Jawa dan Pulau Bali beberapa tahun yang lalu.

Tiba di Singapura, hal pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan berkas-berkas keimigrasian. Ah, ternyata antrian yang panjang. Ada sebuah kejadian lucu, sewaktu melakukan pengambilan gambar mesin pelintas imigrasi yang menggunakan smart card, tiba-tiba seorang petugas keimigrasian menghampiri dan meminta untuk menghapus gambarnya.

Komunikasi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi, karena komunikasi sangat dibutuhkan antara personal tim untuk melakukan koordinasi. Selain itu, hanya satu orang saja (pak Budi) yang cukup mengetahui tentang seluk beluk Singapura, selebihnya merupakan kunjungan pertama ke Singapura. Masing-masing kami membeli SimCard SingTel sebagai salah satu provider layanan telepon selular di sana. Dari Pelabuhan kami segera menuju Orchard Road, lokasi dimana apartement tempat kami tinggal untuk sementara waktu di Singapura.

Orchard Road merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang berada di Singapura, jadi otomatis lokasi menginap kami berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang ada di sana. Kami menginap di sebuah apartemen yang biasa disewakan dengan tarif yang tidak begitu mahal, hanya sekitar 450ribuan semalam (di Bandung, bisa dapat sebuah kamar superior di Hotel Grand Preanger), hal ini cukup terbilang murah jika dibandingkan dengan menginap di hotel yang biaya sewa permalamnya bisa mencaoai ratusan dollar. Uniknya lagi, apartemen ini merupakan apartemen yang biasa ditinggali oleh orang Indonesia, baik itu yang berlibur ke Singapura, maupun yang sedang berobat ke rumah sakit disana (sekitar 300m dari apartemen terdapat rumah sakit Mount Elizabeth, yang banyak dikunjungi oleh Pasien dari Indonesia).

Sesampainya di apartemen, kemudian penjelajahan diawali dengan mendatangi toko buku Borders yang lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap. Setelah puas berkeliling-keliling di Borders, kami melanjutkan penjelajahan ke Kinokuniya, sebuah toko buku yang berada di sayap kiri Nge Ann City (ini adalah mall dimana populasi terbesanya orang2 jepang), disinilah banyak ditemukan buku yang sangat beragam dengan tingkat kelengkapan yang melebihi cukup.

Hari pertama hadir di Singapura, kesan bersih dan ramah ditemukan di sini. Kok disini lebih bersih dan lebih teratur jika dibandingkan dengan Indonesia ya. Sebuah hal yang aku soroti adalah bagaimana orang-orang di sini memanfaatkan public service yang berada di sekitar mereka, baik itu turis maupun penduduk setempat. Sebuah keteraturan yang tidak perlu dipaksakan seperti di Indonesia. Setelah beristirahat sejenak di Apartemen, dan berjalan-jalan di sekitarnya, kemudian rasa lapar ini menghampiri. Ramen Ten Far East Plaza kemudian menjadi tempat makan malam saat itu. Wah, kuenyang buanget.

Far East Plaza

Masakan jepang itu cukup mengganjal perut kami. Oh ya, ada bintang tamu pada saat makan malam. Atika, puteri pertama dari Pak Budi Rahard (yang mengambil gambar) yang sedang menimba ilmu di sana turut serta dalam acara makan malam kami. Setelah makan malam, dia harus kembali ke asrama karena pekerjaan rumahnya yang sangat buanyak sekali. Setelah habis makan malam, kemudian kami melanjutkan eksperimen menggunakan public transportation di sana, Mass Rapid Transportation (MRT) -sebut saja kereta api bawah tanah-. Di tengah jalan, saya harus merelakan sebuah camera digital yang saya pinjam dari seorang teman di Indonesia karena kecopetan. Berhubung ini nuansa liburan, dan saya masih bersyukur yang dicopet itu sebuah camera digital, dan bukan paspor atau dompet yang akan membuat saya kelimpungan karena harus mengurus lagi ke Embassy.

 

MRT

Seperti dapat dilihat di atas, kami melakukan percobaan perjalanan dengan menggunakan MRT ke Newton City Station, agar pada suatu saat kami terpisah, kami dapat menggunakan/mencari jalan pulang sendiri. Sistem pembayaran yang digunakan tidak dengan uang, tapi dengan sebuah kartu EZ-link (mungkin sebentar lagi di Indonesia akan ada sebuah layanan seperti ini, karena salah satu kepergian kami kesana adalah untuk melihat implementasi teknologi serupa).

Setelah berjalan-jalan dengan menggunakan MRT, kami kembali ke Apartemen untuk berisirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

 

Picture Courtessy,

merlion : http://www1.visitsingapore.com

Restoran & MRT, Private Collection

 

 

6 comments

  1. weleh2….no wonder Indonesia have almost the highest numer of crime in the world, even in S’pore u could lost ur camera.
    I remmeber a time when my bag have been robbed in front of shangrila and i lost my two cell phone.
    God..such a hard life should we face in our lovely country.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s