Buku adalah makanan baru

Buku adalah makanan, frase itu adalah tema resolusi mulai dari tengah tahun ini. Sedih rasanya melihat rak buku yang sudah lama tidak ditambah lagi jumlah bukunya, yang berarti menurunnya minat baca yang kumiliki. Alhasil, kepercayaan diri berkurang ketika berbincang dengan orang lain, terlepas dari apa yang sedang dibicarakan, teknologi, teknik, politik, sosial ekonomi, filsafat, religi, karya sastra, dan masih banyak lagi.

Suatu hari, berjalan lambat di sekitar jalan Suci Bandung, seingatku di jalan ini ada beberapa ATM dan Bank Mandiri. Pilihan jatuh ke ATM terdekat, yaitu di depan Hero Supermarket. Ketika antri untuk mendapatkan giliran bertransaksi di ATM, pandangan mata terarah ke sebuah toko buku. Toko buku itu bernama BBC, mengingatkanku pada sebuah toko buku di bilangan palasari, Bandung Book Centre, toko buku ini adalah toko buku tempatku menghabiskan waktu dulu. Kukatakan menghabiskan waktu karena bisa lama sekali berada di toko buku itu, seolah seperti di sebuah perpustakaan buku baru, jika saja terdapat buku yang cocok dan menarik, baru kubayar untuk kumiliki.

Ternyata, toko tersebut adalah cabang dari toko buku BBC yang berada di Palasari. Wah, diskon dong (begitu pikirku). Toko ini memberikan diskon mulai dari 20% sampai dengan 70%, walaupun di Palasari toko yang sama memberikan diskon rata-rata sebesar 30% sampai 40%. Tapi tak mengapa, mungkin diskonnya agak sedikit beda karena untuk membayar sewa tempat yang kukira cukup tinggi di sana.

Semalam, kebetulan pulang dari sarang agak sore, kuajak Ifah serta karena pengetahuan dia tentang buku cukup banyak, jadi bisa tanya-tanya dulu, dan kebetulan terdapat beberapa buku yang akan kubeli berkaitan dengan apa yang akan dia ajarkan padaku. Sebenarnya tidak ada niatan membeli buku, hanya akan mencari saja, itulah sebabnya tidak bawa uang, hanya modal sepuluh ribu saja (maksudnya agar tak ada buku yang bisa terbeli), tapi apa boleh buat, ada beberapa buku yang menarik minatku. Dan digeseklah akhirnya si Debit BCA (pembayaran disana bisa menggunakan Debit maupun kredit).

 

Tiga buku yang kubeli adalah Taj Mahal (novel), Teknik Pemrograman Pascal (Teknologi), dan Jangan Asal Shalat (Religi). Dari tiga buku tersebut yang lucu adalah buku Teknik Pemrograman Pascal yang ditulis oleh Budi Raharjo (wah, jadi inget tulisan pak Budi tentang ini), padahal Budi Raharjo sang penulis adalah Budi Raharjo dari Tim SDDN (link SDDN) bukanlah Budi Rahardjo IndoCisc yang kukenal. Hati tergerak untuk membeli Taj Mahal (John Shors), sebagai sebuah karya sastra yang melegenda dan sebagai bacaan ringan dan hiburan ketika jenuh kembali mendera. Sedangkan Jangan Asal Shalat (Abdul Manan bin H. Mohammad Sobari) dipilih sebagai pemenuh kebutuhan ruhaniah, dan sebagai hadiah ulang tahun bagi diriku sendiri beberapa hari yang akan datang.

Kupikir-pikir setelah membayar, mengapa harus membeli buku (lagi), padahal di rumah masih ada 6 buku yang belum dibaca dengan sempurna (dibaca sampai tamat,red), bahkan ada satu buku masih tersegel dengan rapih (La Tahzan). Tapi tak mengapa, dalam hati kutancapkan semangat membaca kembali. Buku adalah Investasi, dan ini adalah awal resolusi.

 

Setelah kukumpulkan kembali buku-buku itu, kutumpuk dengan rapi di atas meja, di sebelah komputer agar selalu ingat, masih ada buku-buku yang harus kubaca (yang berarti itu adalah hutang yang belum terbayar).

Buku di atas adalah buku bacaan wajib yang harus selesai kubaca dalam waktu dekat, tapi beberapa buku menjadi prioritas yaitu Computer Forensic, Windows Forensic dan Blink serta beberapa artikel dari Sans Reading Room. Ya, buku-buku itu adalah makanan baru bagiku yang susah makan nasi.

Kembali ke … Buku.

Buku adalah makanan baru

5 thoughts on “Buku adalah makanan baru

  1. Sip. Sekarang tulisanmu jadi lebih terstruktur.
    (hihi .. aku niru ucapannya dosen pembimbingmu)
    Jadi aku tinggal nunggu giliran minjem ya. Sip.

  2. Ngapain hidup terstruktur? Yang terstruktur mah biarin benda mati aja. Enakan hidup mengalir, bebas. Hidup lebih seru seperti labirin. Kita tidak akan pernah tahu ketika kita menjalaninya.πŸ™‚

    @zakiahmad,… hidup terstruktur menjadikan segalanya lebih mudah untuk dihadapi. sekalipun berat, banyak jalan yang bisa ditempuh. Bagiku, hidup bukan sebuah permainan, hidup adalah sebuah jalan panjangπŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s