Terima Kasih ya Rabbi

“Pernahkah kita membayangkan jika seandainya satu saja dari kenikmatan kita miliki diambil kembali oleh sang pemiliknya?”

Manusia terlahir dengan berjuta nikmat atas kuasa Ilahi. Tak terasa tapi itu ada jika disadari dengan penuh. Saya katakan tak terasa karena kita tidak pernah merasa-rasakannya. Kita anggap itu sebagai sebuah kejadian biasa saja, padahal tidak seperti itu. Akan ada perubahan antara satu dan dua hal, tapi ya itu tadi, kita anggap sebagai sebuah hal yang biasa saja.

Tadi pagi, jalanan macet sekali, kerap kali saya suka menyesali jika berangkat ke Bojong pagi-pagi, karena tidak ada bedanya dengan berangkat satu jam kemudian, karena satu jam yang hilang tersebut ada di kemacetan jalan. Tapi, tidak begitu yang ada di kepala saya. Ada ritme tertentu yang akan mengacaukan jam biologis jika mengikuti keinginan untuk berangkat satu jam lebih akhir. Kemalasan akan mendera hingga sore hari, karena ujung2nya di jalan sudah terasa malas, dan tidak terbawa suasana hiruk pikuk pagi hari di jalan kopo yang lenglang dan kosong, nyaris tak macet (kalau anda melewatinya jam 3 dini hari, jam biasa jangan pernah berharap).

Kemarin, di perjalanan pulang ke bojong bareng Rully tak sengaja mendengarkan i-radio yang mengetengahkan bahasan tentang hipnotheraphy. Ada satu hal yang menarik yang saya tangkap dari siaran tersebut. Bahwa sebenarnya tubuh kita bisa diberikan perlakuan yang dapat mengakibatkan tubuh tersugesti secara positif. Jadi hipnotis tidak melulu tentang keburukan, dan kejahatan saja.
Saya coba praktekkan hal tersebut, ketika bangun tidur saya ujarkan pada diri saya semua hal yang positif, seperti “saya bisa dan mampu lalui hari ini lebih baik dari kemarin” dan jargon-jargon lainnya. Memang belum terasa sih, soalnya baru beberapa hari saja.

Hari ini, adalah hari yang terindah, Allah SWT menunjukkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah hinggap, bahkan ada di pikiran ini. Jalanan macet, padahal dari sisi sebelah kanan tidak ada kemacetan yang berarti. Ingin menggerutu saja rasanya, ingin saya bentak, bahkan saya maki penyebab kemacetannya. Setelah tiba di titik awal kemacetan, semua kekesalan saya, kemarahan saya sirna seketika. Penyebab kemacetan itu adalah lambatnya sebuah bak sampah. Ya, bak sampah. Bak sampah yang ditarik oleh seorang lelaki paruh baya, dengan uban dimana-mana, bahkan kumisnya pun sudah memutih. Teringat pada sang bapak, yang mungkin tidak berbeda jauh rentang umurnya. Rasa bersyukur seketika muncul, terjawantahkan dalam tetesan air mata, yang dengan seketika keluar begitu saja tanpa permisi. Terima kasih ya Allah, atas kuasaMu menunjukkan padaku, bahwa seharusnya aku bersyukur. Berada di atas kuda besi, tanpa harus menarik beban seperti bapak tua tadi. Alhamdulillah. Semoga bapak yang tadi diberikan kebahagiaan, keselamatan baik di Dunia maupun di Akhirat.
Sudahkah kita panjatkan rasa syukur kita hari ini?

One comment

  1. Semoga bagi yg telah bersyukur dan meneteskan air mata bagi bapak tsb juga diberikan kemudahan dan kebaikan di dunia dan akhirat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s