urunan dosa yuk,…

Mungkin itu adalah kampanye yang disampaikan sebagian dari dalam diriku. Setiap hari, setiap waktu, setiap jam, menit, dan detiknya.

Apakah sudah terlambat untuk menyesali semuanya, ketika nasi sudah menjadi bubur (ah, mungkin hanya tinggal diberi kecap, ditaburi bawang goreng, ayam, ati ampela, dan kerupuk), maka jadilah ia makanan yang sedap. Tapi jika dosa?

Bagiku, pertambahan dosa adalah pangkat kuadratik dari usia, sementara pertambahan pahala tidak berjalan linear. Dosa semakin bertambah saja, dosa semakin menggunung saja.

Taubat, ah itu hanya jadi sebuah istilah saja, lip service mungkin. Toh pada kenyataannya dosa yang kulakukan senantiasa berulang, walau tidak dalam sebuah interval yang pasti.

Shalat, rasanya semakin lama berkurang kualitasnya, semakin jauh dari kata khusyuk, padahal aku sendiri tidak tahu apa artinya khusyuk, dan seperti apa shalat yang khusyuk. Sejauh ini, shalat barulah merupakan sebuah kewajiban, bukan kebutuhan bagiku.

Tersungkur dalam sebuah sujud panjang dikeheningan hanyalah menjadi bunga mimpi belaka. Mengalun indah bersama dengkuran, atau berselimut dalam kedinginan. Padahal, di sana letak kebahagiaan hakiki bagi seorang muslim yang beriman.

Masjid, begitu jauh. Hanya seminggu sekali secara rutin didatangi, padahal di sana adalah gudangnya barokah.

Al Quran, masih kalah jauh sama tumpukan novel-novel fiksi, koran, dan majalah, serta buku-buku penggugah jiwa katanya, tapi yang ada bagiku, hanya penghabis waktu belaka jika tidak diiringi dengan peningkatan pengetahuan akan iman dan akhirat. Karena harus berjalan seimbang dan selaras.

Hidup terus berjalan, terlewati bait demi baitnya, melangkah pasti pada setiap lariknya, tak ada yang pasti apa yang akan terjadi esok hari, aku? terus mengikutinya, nafsu menjadi pengiringnya.

Bagaikan panggang jauh dari api, hidupku sepi dan dingin, bukannya tidak ada yang menemani, tapi jauh di relung sepi rasanya  jauh dari kehangatan itu. Aku semakin jauh dari pemilikku sendiri,  aku terlalu angkuh, tinggi hati, dan tak sadarkan diri, tak terasa dunia semakin tua saja. Akhirat sudah dekat cing, mpok, nyak, babeh. Noh, banyak fenomena akhir zaman yang muncul kepermukaan.

Aku mulai merasakan nikmatnya korupsi, jatah hidup yang semestinya dipakai untuk beribadah, sedikit demi sedikit aku korupsi untuk kenikmatan duniawi, tidur panjang (bukan istirahat), dan semakin lama-semakin asyik dan terbuai. Jika saja KPK akhirat mendapati bukti-bukti ini, tak perlu lama proses pengadilan, masuklah aku ke penjaranya, yang dikenal dengan istilah Jahannam.

Hingga suatu hari (tadi pagi tepatnya), kubayangkan tengah bercengkerama dengan malaikat Izrail, di sebuah waktu. Berbicara sambil minum teh di sebuah tempat, kemudian Izrail berkata, “apakah kamu sudah siap menghadap Illahi Rabbi?” padahal kita tahu, makhluk yang satu ini tidak bisa diajak kompromi, apalagi suap. Tak bisa. Ia hanya patuh pada satu titah, tak bisa ia mundurkan, juga ia majukan. Matilah aku saat itu.

Hingga kemudian, hatiku menjerit saat ini. Bulu kudukku berdiri. Dalam benakku sekonyong-konyong muncul pertanyaan.

Akankah esok jadi lebih baik dari hari ini?

Akankah esok masih ada matahari yang menemani dluhaku?

Akankah esok ada bulan yang bersujud bersama dalam tahajudku?

Akankah esok ada kesempatan bagiku, untuk mengubur semua dosa, mencari sebuah ketenangan diri, bersembunyi dibalik rindangnya iman, bahkan seluruh jasadku turut bertasbih?

Aku takut, aku galau, jika sedianya pagi, sore ini atau bahkan malam nanti Izrail datang mengetuk pintu, dan bertamu.

Aku cemas, sangat cemas, jika tiada bisa bersyukur dengan tulus.

Aku takut, jika kualitas hidupku terus menurun, terus menurun, terus menurun, hingga di akhir hayatku, takut tidak memiliki kualitas hidup sama sekali, hanya sampah, bangkai yang menanti dikuburkan saja.

Laa haula, wa laa Quwwata Illa billah,…

4 juni 2008, 26 tahun beranjak dari hari natalku.

3 comments

  1. mas Roisz.. urunan artinya apa?😀
    btw, lau ga ngerti kata ‘urunan’ di judulnya.. tp isinya bgs.. jd tambah malu ama keadaan diri.. meni sararedih kitu..

    @atih
    urunan itu istilah turunan dari urun
    urun (kata kerja), menyambung; menyokong
    urun.an (kata benda) artinya sumbangan; sokongan; iuran
    urunan di atas saya maknakan sebagai ajakan untuk saling menyumbang, saling memberikan.

    terima kasih.

  2. Met milad. Nah, sekarang kita seusia. Tapi, teuteup, lebih tampang tua aku (mode gak mau kalah = ON).
    Hehehe🙂

    @iffata
    secara, kamu memang jauh lebih tua dari aku. hehehe

  3. Wah dalam sekali Is, kontemplasimu kali ini. Aku jadi turut bercermin. Bukan hal yang gampang, untuk bisa nulis seperti ini.

    Selamat mengulang hari, Rois Solihin. Teriring doaku buat kamu.

    @za
    terima kasih.
    mohon do’anya saja, agar esok bisa menjadi hari yang jauh lebih baik, agar saya tidak merugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s