lirik … lirik … tak berlirik …

bosan dengan lagu berlirik, akhirnya kunyalakan pemutar musik di komputerku. kupilih lagu-lagu dengan model instrumentalia. entah mengapa, tapi tipikal instrumentalia yang ada semuanya hampir bernada sendu. biasanya tipikal lagu seperti ini kuputar ketika menyusuri meter demi meter perjalanan. entah dengan sepeda, motor, mobil, bis, bangau, bahkan burung besi.

tapi, dentingan tuts piano, alunan gesekan biola, petikan gitar, dan harmonisasi yang menyelimuti kesemuanya mampu membawaku larut ke alam jauh di sana.

senyum getir, senyum lirih, dan sedikit sunggingan manis mampu terciptakan. walau tak jarang air mata menganaksungai di atas tebing landai tulang pipi. ingat masa kecil, masa sekolah, masa kuliah, hingga akhirnya keputusan besar harus kupilih. bekerja.

kini, berselang beberapa tahun dari sana, kangen, rindu yang tak kuasa ku tahan. berjalan di serambi mesjid, keluar masuk kantin kampus, menerima curhatan di taman, sejenak berbaring, beraktivitas, hingga lupa waktu dan pulang larut. lantunan lagu-lagu itu mampu membawaku ke sana, menembus ruang waktu, menjelajah angkasa. terbang bersama angin yang membawaku lalu, tanpa arah dan tujuan, kemana saja alam pikirku ini beranjak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s