Kiprah Sa’ad bin Abi Waqqash dan Firasat Nabi SAW

Oleh Abang Eddy

*****

Saat terbaring dalam sakitnya, ketika pelaksanaan haji wada’, Sa’ad bin Abi Waqqash mengkhawatirkan perkara harta yang ada dalam genggamannya. Ia begitu khawatir, jikalau kelak sepeninggalnya, harta tersebut tidak termanfaatkan sebagaimana mestinya, sebagaimana amanat Allah ’azza wa jalla dan sunah dari Rasul-Nya.

Selagi merasakan kerasnya sakit, disaat ingatan dan akal Sa’ad terus menimbang-nimbang urusan harta yang meresahkannya, Nabi SAW datang menjenguk Sa’ad. Disamping pembaringan sahabatnya, salah satu diantara sepuluh orang sahabat yang dijamin menghuni surga, beliau duduk sembari meletakkan tangan di bahu Sa’ad. Perhatian sederhana dari junjungan alam tersebut, manjur memberikan ketenangan jiwa dan meredakan sakit fisik Sa’ad, yang keadaannya memang cukup memprihatinkan.

Saat Sa’ad mulai dapat mengatur nafas, mulai bisa mengendalikan suhu tubuhnya yang tinggi diterjang demam, mulailah ia mengutarakan apa yang menjadi pasal keresahan dan kegundahan hatinya.

”Ya, Rasulullah, alangkah kerasnya penyakit yang saya derita ini, sebagaimana engkau menyaksikan sendiri. Adapun saya memiliki harta yang cukup banyak, sedang yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Apakah boleh saya menyedekahkan dua-pertiga dari harta saya itu ?”

Demi mendengar pertanyaan sahabatnya, Nabi SAW tersenyum dan menjawab,”Tidak boleh, wahai Sa’ad.”

Nabi SAW memijat bahu Sa’ad dengan lembut, mulai mengurutnya pelan-pelan, lalu memijat seluruh permukaan lengannya. Sa’adpun bertanya untuk kedua kalinya,”Bagaimana jikalau separuhnya, ya Rasulullah ?”

Sambil terus memijat bahu dan lengan sahabatnya, Nabi Muhammad SAW menggelengkan kepala,”Tidak boleh, wahai Sa’ad.”

”Bagaimana jika sepertiganya ?”

Nabi SAW menarik nafas lalu tersenyum kepada Sa’ad. ”Sepertiga itu banyak dan cukup besar, sahabatku. Wahai Sa’ad, sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, hal itu lebih baik bagimu, daripada jika kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga harus meminta-minta pada sesama manusia.”nasehat beliau sambil memberi isyarat dengan kedua tangan.

”Sesungguhnya, wahai Sa’ad, apapun yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridla Allah pasti kamu diberi pahala. Sekalipun kamu hanya memberikan sekerat daging ke mulut istrimu.

Mendengar penjelasan junjungannya tersebut, Sa’ad-pun tersenyum tipis. Gelisah hati dan resah pikirannya berkurang, seiring bulir-bulir keringat yang mulai membasahi kening, pertanda demam hebatnya tengah berangsur pulih. Dalam keadaan demikian, sekali lagi Sa’ad menatap wajah Nabi SAW lekat-lekat.

”Wahai, Rasulullah junjungan kami, apakah saya ini akan segera berpisah dengan keluarga dan kawan-kawanku ?”
”Belum, Sa’ad, belum waktunya.”jawab Nabi SAW.”Sesungguhnya belum dekat waktunya kamu berpisah dengan mereka. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan demi mencari ridla Allah, hingga bertambah juga derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash menarik nafas panjang, lalu memanjatkan doa : ”Ya Allah, mudah-mudahan sahabatku dapat melanjutkan hijrahnya dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke tempat yang mereka tinggalkan…”

**
Setelah Nabi SAW wafat, kiprah Sa’ad bin Abi Waqqash dalam dinamika dakwah dan kemasyarakatan masih terus berlanjut. Khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar r.a. memberi kepercayaan kepada Sa’ad, untuk menjadi ’amil bagi daerah Hawazin. Pertimbangan Abu Bakar, tentu saja, karena akhlak dan keberanian Sa’ad bin Abi Waqqash, yang pernah dijamin oleh Nabi SAW dengan jaminan ibu-bapaknya. ”Tiada pernah saya mendengar Rasulullah SAW menyediakan ibu-bapaknya sebagai jaminan untuk seseorang, kecuali bagi Sa’ad.”ucap Sayyidina Ali bin Abu Thalib r.a. Menurut Ali, Rasulullah SAW pernah bersabda demikian dalam peperangan Uhud. ”Panahlah, wahai Sa’ad. Sungguh ibu-bapakku menjadi jaminan bagimu.”sabda Nabi SAW, yang menandai saat-saat bersejarah, terlepasnya anak panah pertama dalam perjuangan menegakkan dinul Islam di muka bumi.

Setelah Abu Bakar wafat, Sayyidina Umar bin Khattab r.a.-pun didaulat umat Islam untuk memegang tampuk kepemimpinan. Pada masa kekhalifahannya, kabar tentang orang-orang Persia yang ingin mengusir umat Islam dari negeri Iraq, sampai ke Madinah. Umar lantas menyerukan jihad dan mengumpulkan ribuan tentara serta rakyat yang sanggup berperang, di kota tujuan hijrah umat Islam kedua itu. Menyaksikan jumlah mujahid yang sedemikian banyak, dengan penuh semangat Umar menyatakan bahwa dirinya sendiri yang akan turun memimpin pasukan itu. Muncullah pro dan kontra, yaitu kalangan umat Islam yang setuju dan menolak keputusan Umar tersebut. Umat Islam lalu berunding dengan Umar, agar segera memilih seorang sahabat sebagai pemimpin ekspedisi. Setelah menimbang dan berpikir, Umar-pun lalu mengundang Sa’ad untuk menghadap kepadanya. Dikala Sa’ad kemudian memenuhi undangannya, maka Umar-pun tanpa ragu mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash r.a., sahabat yang ia juluki sendiri sebagai ”Singa Yang Kerap Menyembunyikan Kukunya” itu, untuk menjadi panglima pemimpin pasukan penaklukkan Iraq. Sebuah ekspedisi yang kemudian termasyhur keberhasilannya, dengan prestasi penyatuan seluruh dataran Babilonia dalam naungan kekhalifahan Islam. Sebuah prestasi yang sangat heroik dan gemilang, mengingat dalam saat-saat menentukan pada kejatuhan kekaisaran Persia itu, Sa’ad jatuh sakit sampai tak bisa berada di barisan terdepan, tak mampu melepaskan panah atau memancung leher musuh dari atas pelana kuda, sebagaimana beliau lakukan sepanjang kiprahnya dalam peperangan menegakkan kalimat Tauhiid.

Sa’ad bin Abi Waqqash-pun menjadi saksi peristiwa fitnah besar, pasca terbunuhnya khalifah ketiga, Sayyidina Utsman bin ‘Affan r.a. Dalam kekisruhan pemilihan khalifah keempat antara Sayyidina Ali bin Abu Thalib r.a. dengan pendiri dinasti Bani Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Sa’ad yang telah berusia lanjut memilih untuk menepi dari berbagai fitnah yang sampai kepadanya. Ketika banyak orang, yang dipelopori oleh keponakannya, Hasyim bin ’Utbah bin Abi Waqqash, menyatakan dukungan agar Sa’ad berani ikut bersaing dalam perebutan kekuasaan, Sa’ad memilih untuk diam dan menyingkir. Sahabat yang dicintai oleh sahabat-sahabat utama Nabi SAW itu, yang terkenal besar baktinya pada orangtua dan besar baktinya dalam perjuangan menegakkan agama Allah itu, memilih untuk lebih banyak beribadah demi meningkatkan kualitas hubungannya dengan sang Rabb.

Sa’ad bin Abi Waqqash tinggal di ’Aqiq, dalam hari-hari terakhir menjelang wafatnya. Beliau menanti detik-detik kepergiannya ke hadirat Allah, dalam pangkuan salah seorang putranya.

”Kenapa engkau menangis, wahai anakku ?”ucap Sa’ad dalam sengal nafasnya, tatkala ia menyaksikan airmata berlelehan di pipi sang anak yang dikasihi.”Baginda Nabi SAW pernah menyampaikan kabar gembira, bahwasanya ayahmu ini adalah salah satu penduduk surga. Sungguh ayah percaya penuh dan mengimaninya. Lagipula, kepada siapa lagi kita hendak beriman, jika bukan kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Airmata sang anak-pun makin deras mengalir, demi mendengar perkataan sang Abi, yang begitu dalam maknanya dan sungguh mengharukan hati.”Sebenarnyalah, Allah tiada akan menyiksa ayah, dan sesungguhnya ayahmu adalah termasuk penduduk surga…”berkata Sa’ad dengan lirih, demi menenangkan hati sang anak yang dirundung duka teramat dalam, waktu mendampinginya di saat-saat terakhir.

Dengan lemah, dalam puncak kepayahan sakratul maut, Sa’ad memberi isyarat kepada anaknya, untuk mengambil sesuatu dari dalam peti, tempat dimana Sa’ad biasa menyimpan benda-benda atau barang-barang pribadi. Sang anak tertegun, demi menyaksikan apa yang terdapat didalam peti itu hanyalah sehelai kain kusam, yang karena usianya juga tampak telah sedemikian lapuk.

”Wahai, orang-orang yang kucintai, sesungguhnya aku telah mengenakan kain ini, saat kuhadapi orang-orang musyrik dalam peperangan Badar. Kain ini telah kusimpan lama, lama sekali, demi saat-saat seperti hari ini.”Yang hadir ketika itu langsung memahfumi, bahwasanya Sa’ad ingin ia dikafani dengan kain kusam itu. Kain yang pernah ia selempangkan sebagai pakaian, saat ia bersama-sama pasukan Islam yang pertama, bersama dengan Rasulullah dan para sahabatnya yang setia, memerangi kaum musyrikin di medan perang Badar.

Sa’ad bin Abi Waqqash wafat dalam usia 80 tahun, pada tahun ke-54 Hijriyyah. Jasadnya kini berbaring tenang di pemakaman Baqi’, tempat jasad-jasad suci para pahlawan Badar disemayamkan.


Firasat Nabi SAW atas sahabatnya, Sa’ad bin Abi Waqqash, yang pernah ia puji sebagai salah seorang ahli surga itu, ternyata bukanlah sekadar ramalan belaka. Bila pada saat pertemuan mereka dalam haji wada’ Sa’ad baru dikaruniai seorang anak perempuan, maka dalam tahun-tahun berikutnya Allah mengaruniakan beberapa orang anak laki-laki kepada Sa’ad. Umurnya yang panjang itu diisi dengan berbagai amal shalih dan upaya menegakkan dinullah, bahkan dalam saat-saat dimana lelah dan sakit yang parah menyergap tubuhnya. Beliaupun dikaruniai panjang usia, sebagai sahabat yang paling terakhir wafat, diantara para sahabat-sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah kaum muhajirin terakhir, yang dipanggil menghadap ke hadirat Allah ’azza wa jalla, membawa segala amal perbuatannya yang akan senantiasa tercatat dengan tinta emas, dalam setiap kitab sejarah perjuangan Islam.

Membaca kisah dari hadits tersebut, nyatalah bahwa Nabi SAW mempunyai firasat yang tajam. Keistimewaan dalam diri Nabi SAW itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Ada dua jenis keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau, yaitu : irhas dan mukjizat. Allah menganugerahkan Irhas, yaitu ciri-ciri yang Allah dzahirkan kepada beliau ketika kecil, sebagai tanda atau bukti ia akan diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul tatkala dewasa. Mengenai Irhas Nabi SAW ini, dalam beberapa riwayat yang masyhur lagi shahih, dituturkan bagaimana ladang-ladang Halimatus Sa’diyah, ibu susuan beliau, menjadi subur dan hijau pada musim kemarau. Hal itu terjadi tatkala ia tengah menyusui Nabi SAW sewaktu bayi. Irhas lainnya bagi Baginda Nabi dikemukakan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik r.a., yaitu : Rasulullah s.a.w telah didatangi oleh Jibril a.s ketika baginda sedang bermain dengan kanak-kanak. Lalu Jibril a.s memegang dan merebahkan baginda, kemudian Jibril a.s membelah dada serta mengeluarkan hati baginda. Dari hati tersebut dikeluarkan segumpal darah, lalu Jibril a.s berkata: Ini adalah bahagian syaitan yang terdapat dalam dirimu. Setelah itu Jibril membasuh hati tersebut dengan menggunakan air Zamzam di dalam sebuah bekas yang diperbuat dari emas, kemudian meletakkanya kembali ke dalam dada baginda serta menjahitnya sebagaimana asal. Dua orang kanak-kanak segera menemui ibunya iaitu ibu susuan Rasulullah s.a.w dan mereka berkata: Muhammad telah dibunuh. Seterusnya mereka mengusung baginda, ketika itu rupa baginda telah berubah. Anas berkata: Aku benar-benar pernah melihat kesan jahitan tersebut di dada baginda (H.R.Bukhari-Muslim). Adapun mengenai firasat tajam Nabi SAW terhadap diri Sa’ad bin Abi Waqqash, maka jenis keistimewaan tersebut dikenal dengan nama : mukjizat. Yaitu, perkara luar biasa yang Allah tampakkan pada diri Nabi SAW, sebagai pendukung bagi penyampaian risalah ketuhanan bagi beliau dan untuk disebarkan kepada seluruh umatnya.

Selain firasat tajam, apa yang diucapkan Nabi SAW pada hakikatnya juga merupakan sebuah doa bagi Sa’ad bin Abi Waqqash. Apalagi, dalam berucap saja beliau telah dijamin oleh Allah melalui firman-Nya : ”Dan tiadalah yang dia (Muhammad) ucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan.” (Q.S. An-Najm: 3-4). Tentu kaum muslimin sudah sangat memafhumi, jikalau Nabi SAW berdoa atau mengucapkan sesuatu hajat, insya Allah menjadi makbul dan apa yang diharapkannyapun kerap menjadi kenyataan. Ucapan ”Sesungguhnya belum dekat waktunya kamu berpisah dengan mereka. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan demi mencari ridla Allah, hingga bertambah juga derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu.”, yang diucapkan oleh Nabi SAW kepada Sa’ad, tidak saja menandakan ketajaman firasat beliau, namun sekaligus merupakan bentuk hiburan dan doa, bagi sang sahabat agar dapat segera tenang dan tenteram dalam sakitnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Disamping membuktikan keistimewaan Nabi SAW, hikmah lainnya dari hadits tersebut adalah, betapa terpujinya mereka yang meninggalkan ahli waris-nya dalam keadaan cukup, dalam keadaan berada. Dengan demikian, sang ahli waris tidak menjadi beban bagi orang lain. Alangkah lebih terpujinya lagi, jikalau yang wafat telah menyiapkan ahli waris-ahli warisnya, untuk menjadi ahli ikhtiar dan ahli sedekah. Maka dengan bermodalkan harta peninggalan yang diwarisinya, generasi penerus tersebut bisa mengoptimalkan manfaat dari harta tersebut, demi kemaslahatan keluarga dan kemaslahatan umat. Sungguh warisan ilmu ikhtiar dan ilmu berbagi dari yang mewariskan lebih utama, ketimbang harta yang ia tinggalkan buat para pewarisnya. Insya Allah.
**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s