Saya, Anda, dan Mereka

Manusia di antara kekurangan dan kelebihannya. Allah dengan adil menciptakan keseimbangan keduanya, agar manusia tidak merasa dirinya sempurna, dan merasa lebih dari yang lainnya. Sehingga dia bisa berlaku tidak adil pada sesamanya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam keadaan, kondisi, dan kedudukan yang sama (hanya Iman dan Taqwa yang membedakan, namun bukan ini yang akan saya bincangkan sekarang, bukan pada kapasitas dan kapabilitas saya). Manusialah yang kemudian membandingkan dan membaginya menjadi berbagai macam lapisan, golongan dan lainnya.

Hal sederhana adalah adanya pembagian berdasarkan tingkat kekayaan, tingkat pendidikan, dan lainnya. Sehingga si pembantu tidak bisa duduk berdampingan dengan sang majikan, pemegang tiket festival dengan pemegang tiket VIP. Bandingkan dengan Mesjid, semua orang bisa duduk berdampingan, tanpa ada pembagian status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Seorang pembantu bisa menjadi Imam, bisa menjadi makmum, dan begitu pula dengan posisi yang lainnya. Siapa saja berhak, terbuka, tanpa keterbatasan duniawi.

Lalu kemudian apa yang terjadi ketika manusia mendapatkan kesempatan dan kedudukan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan yang lainnya. Maka manusia akan mengikuti aturan main yang mereka ciptakan sendiri. Aturan pembagian. Bahwa seseorang akan menjadi lebih jika dibandingkan dengan yang lainnya. Sedikit terkecoh (dan terkelabui) maka manusia akan menjadi seseorang yang superior. Padahal dahulunya sama-sama susah, sama-sama bodoh, sama-sama tidak mampu, sama-sama tidak punya, sama-sama belajar. Kekuatan hati adalah kunci dari itu semua ini, termasuk di dalamnya kepekaan diri akan kondisi lingkungan sekitar, ketersinggungan, dan etika. Sehingga kita hidup dengan manusiawi, bukan hidup sendiri.

Suatu ketika ketika saya menyelesaikan salah satu tingkat pendidikan dimana predikat saya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kakak-kakak saya, kakak saya mengirimkan sebuah short messages services (sms) sederhana.

“hari ini kamu telah menyelesaikan sebuah babak dalam kehidupan akademismu, sebagai buah proses perjuangan panjang, baik kamu maupun semua orang yang ada di belakangmu. jangan jadikan hari ini menjadi titik untuk menjadi tinggi hati untuk kehidupan esok. mama, bapa, dan kami semua berjuang untukmu dengan cara kami masing-masing. selamat, dan semoga masih ada kesempatan lain untuk mengirimkan ucapan selamat di hari wisudamu yang lain esok”

Sms itu begitu panjang dan saya simpan, karena saya belum bisa mengerti sepenuhnya apa artinya hari itu. Waktu senantiasa berlalu, dan saya mendapatkan banyak pencerahan, kejadian, pengalaman pribadi, hingga obrolan menarik sehingga saya bisa mengerti apa arti semua itu. Ternyata pertambahan kualitas diri, baik dari sisi materi maupun non-materi akan memberikan dampak yang besar bagi hidup kita.

Pendewasaan pada tahapan pembelajaran kemudian menjadi kata kunci selanjutnya. Mendewasakan diri, dan berkaca pada lingkungan sekitar, dan tentunya belajar pada mereka yang lebih mumpuni akan menjadi kunci strategis yang sangat efektif dalam pengembangan diri kita. Proses tersebut kemudian menjadi sebuah siklus yang menarik, siklus simbiosis. Antara mutualisma, komensalisma, atau bahkan parasitisma, akan ditentukan oleh environment dimana proses ini terjadi. Besar kepala, egoisme (self fish), idealis, pragmatis, bahkan oportunis adalah produk ciptaan dari setiap proses pembelajaran, hanya saja ada mereka yang bisa menempatkan sifat-sifat itu pada kondisi dan waktu yang tepat atau tidak. Salah-salah, kemampuan kita digunakan untuk bersifat  refresif terhadap pihak lain.

Hal yang harus diperhatikan kemudian adalah kesiapan kita (baik fisik, maupun psikologis) untuk menghadapi perbedaan, mengenali proses sosialisasi dan berkembang. Memanfaatkan kemampuan diri, dalam ajang kompetisi meningkatkan kemampuan yang sudah ada, bukan dalam ajang rivalitas, dimana harus ada yang keluar sebagai pemenang, dan pecundang.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas environment tersebut?

Tentu saja, saya, anda, dan mereka yang menjadi bagian tidak terlepas dari kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s