hmmm,…

memang benar adanya jika bahasa arab adalah bahasa alam. bahasa arab
adalah ibu dari bahasa-bahasa yang ada di dunia. dengan kosakata yang
superlengkap, turunan kata, grammatikal alias tatabahasa, hingga
kesantunannya tiada yang dapat mewakili. setidaknya itu adalah celoteh
dan komentar saya atas bahasa ini. itulah sebabnya al quran ditulis
dalam bahasa arab. bahasa yang sebenarnya tubuh kita mengerti dengan
begitu jelas. jika engkau bingung, bacalah al quran, ia adalah
sebaik-baik makhluk.

dari tadi sore, anak yang belum lahir daripada kandungan ibunya begitu
resah dan gelisah, padahal segala sesuatu yang biasanya membuatnya
tenang sudah dilakukan. ah, mungkin ia sedang mencari perhatian dari
abahnya yang super cuek.

sudah lama si abah tidak membacakan ayat suci alquran untuknya, hingga
tadi terbersit untuk membacakan surat ar-rahman, dengan harapan agar
kelak si anak memiliki sifat ini, memiliki satu dari sekian ratus juta
sifat sang Empunya.

baru saja dimulai, tanda-tanda kegelisahan itu hilang sirna, dia
begitu terlelap, lembut tidak beraktifitas, begitu tenang. lantunan
ayat itu memang syahdu (bukan suaranya, tapi makna yang tersembul pada
setiap katanya). sekian lama, memang ia tenang, hingga tiba-tiba ia
bergejolak kembali, tendang sana-tendang sini, sundul sana-sundul
sini. ternyata si abah tidak memperhatikan bahwa ia melewatkan satu
lembar, sehingga ia kini membaca surat al-waqiah, mengenai hari
kiamat.

begitu tersadar surat yang dibacanya bukan surat ar-rahman, kemudian
bacaan kembali ke surat ar-rahman. ia kembali begitu tenang dan
syahdu. semoga abah memiliki banyak waktu sehingga bisa mengingatkanmu
kembali ayat-ayat yang membuatmu tenang sewaktu di dalam kandungan.

mahasuci Allah, yang telah menganugerahkan al quran bagi kami.
rahmatan lil ‘alamin terkunci rapat di dalamnya. bahkan bayi yang
belum lahir pun bisa dengan sebegitu mudahnya mengerti apa isinya.

semakin terasa nikmat, ketika membacakan huruf demi huruf, walaupun
terbata-bata membacanya, membacakannya untuk si dia. ah, begitu tenang
hati ini. nikmat ini, yang begitu lama saya rindukan.

nikmat untuk merasakan bahwa saya berarti bagi orang lain, bahwa
setidaknya ada satu dua orang yang masih membutuhkan saya. jalan
keluar dari kebuntuan itu. rasa jenuh itu. saya ternyata merindukan al
quran. terima kasih nak, bahkan ketika engkau belum keluar dari perut
ibumu pun, engkau bisa mengerti apa yang dibutuhkan abahmu.

terima kasih ya Allah,… terima kasih atas rahmat dan nikmatmu.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s