Ayo … Sekolah,…!

sigh,…

kuawali postingan ini dengan menghela nafas yang sangat panjang.

NIM, nomor induk mahasiswa, begitu sederhana. hanya sebuah nomor, tapi tidak bagi saya. NIM adalah sebuah pencapaian dari cita-cita yang sempat saya gantungkan 15 tahun yang lalu. Tentunya NIM yang dikeluarkan oleh sekolah saya sekarang.

Hanya saja, hal tersebut berbenturan dengan cita-cita yang pernah dibuat 20 tahun yang lalu. Dengan gagah saya katakan bahwa saya ingin jadi seorang Insinyur Pertanian, sedangkan di kampus ini, tidak ada jurusan ataupun fakultas Pertanian.

Akhirnya ketika lulus SMA, saya putuskan untuk memilih jurusan dimana cita-cita anak SD itu digantungkan, 7 tahun kemudian lulus, dengan IPK pas-pasan. Hanya berselisih sedikit saja dengan persyaratan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Hari ini, status saya kembali menjadi status saya 10 tahun yang lalu. Mahasiswa. Hanya saja sekarang ada tambahan Mahasiswa pasca sarjana, pengakuan datang berupa nomor induk mahasiswa di sekolah yang baru. Sungguh aneh, tapi nyata, ingin tertawa takut disangka orang gila, ingin menangis takut disangka ada yang meninggal.

Perjuangan yang cukup menguras energi dan emosi, harus melewati dua kali saringan agar bisa terdaftar. Saya tidak berhasil di ujian pertama, baru setelah mengikuti saringan masuk yang kedua, saya bisa melewatinya. Hatur nuhun ya Allah.

Ada perbedaan dan sebuah kehidupan yang kontras dan menarik, serta menggelitik. Saya adalah mahasiswa dengan satu istri dan satu anak (insyaAllah nambah, anaknya, kalau istrinya, satu aja, insyaAllah). Pulang kuliah kecil harapan untuk bisa langsung mengerjakan tugas yang diberikan kampus, si kecil langsung merengek ingin dipangku abahnya, dan itu berlaku sampai besok subuh, kecuali kebutuhan menyusuinya yang hanya bisa dipenuhi oleh ibunya saja.

Anugerah ini begitu besar dan dahsyat sekali, tak mampu rasanya kedua tangan ini untuk dapat mensyukurinya. Allah begitu baik, hingga ia memberikan satu demi satu mimpi yang kupinta sejak kecil, dalam waktunya sendiri. Kegagalan pernah pula menghinggapiku, hingga tak jarang merasa diri tidak berguna, hanya bisa sesenggukan di sudut kamar di tengah malam, meratapi kegagalan yang terjadi. Tapi tangisan itu ku kembalikan pada sang pemilik air mata, hingga Ia mengubahnya menjadi energi positif begitu pagi menjelang.

Terima kasih untuk ibu dari anakku, yang senantiasa memberikan dorongan yang begitu dahsyatnya, diammu, senyummu, analisismu, bahkan komentar-komentar tak penting yang kadang-kadang muncul darimu memberiku semangat dan senyuman. walaupun aku tahu, kau lakukan itu agar aku mampu teguh memilih apa yang kuputuskan untuk kalian berdua.

Si jendela hati, si penerang hari, penggugah semangat, penghilang duka nestapa dan gelisah, Qisthy Muhammad Al Fathi, so glad and be proud, that I am your father is. kelak akan kubuatkan bajju untukmu ‘Aing ganteng pedah aing anak Abah’.😀

Semoga hidup kita diberkahi, bahagia, sehat dan selamat dunia akhirat

Dan si mahasiswa ini harus kembali ke kehidupan malamnya, sebagai seorang karyawan swasta, office boy merangkap driver

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s