unik-unik kartu kredit

berangkat dari definisi mengenai kredit itu sendiri. berdasarkan kamus besar bahasa indonesia, kre·dit /krédit/ n diartikan sebagai:

1 cara menjual barang dng pembayaran secara tidak tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur); 2 pinjaman uang dng pembayaran pengembalian secara mengangsur; 3 penambahan saldo rekening, sisa utang, modal, dan pendataan bagi penabung; 4 pinjaman sampai batas jumlah tertentu yg diizinkan oleh bank atau badan lain; 5 sisi kanan neraca (di Indonesia);

maka definisi yang paling masuk akal untuk kartu kredit adalah definisi yang kedua. yang artinya, kita meminjam uang dari bank untuk membeli barang/jasa kemudian kita membayarnya secara mengangsur.

salah satu bank nasional mengiklankan kartu kreditnya dengan penjelasan ini

Kartu kredit dewasa ini bukan sekedar gaya hidup tetapi merupakan kebutuhan bagi masyarakat modern untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari. Semua keperluan bisnis maupun pribadi, mulai dari membiayai perjalanan dinas, menjamu klien, membiayai kelahiran si kecil, hingga belanja kebutuhan harian atau berlibur bersama keluarga tercinta dapat di penuhi dengan Kartu Kredit Bank Tersebut.

ketika gaya hidup sekarang sudah bergeser, sehingga kalimat pola hidup sederhana, hidup rajin, menabung, dan lain sebagainya akan sedikit lebih sulit kita jelaskan pada anak-anak kita karena setiap belanja kedua orang tuanya menggunakan kartu kredit, alias kartu utang. padahal pola hidup sederhana, yang salah satunya adalah rajin menabung (agar punya uang dan tidak berutang) sedikit harus kita jelaskan lebih dalam dalam wacana penggunaan kartu kredit.

di kantong saya sendiri ada 2 kartu kredit yang bertengger dengan manis (produk bank internasional dan bank lokal), walaupun yang sering dipakai hanya kartu kredit produk bank lokal, temannya cukup duduk manis dan digunakan kalau berpergian atau menginap di hotel untuk buka kamar. kartu kredit biasanya saya gunakan untuk memanfaatkan diskon dan promo. yang paling sering adalah upgrade ukuran cangkir di sebuah kedai kopi, pesan yang kecil dapat yang besar😀.

saya menerapkan aturan yang tidak lazim dalam menggunakan kartu kredit, yang justru berkebalikan dengan prinsip dasarnya. saya pakai kartu kredit pada dua kondisi.

1. sudah terbayang darimana nanti bayar tagihannya

2. maksimal harus sudah bisa dibayar sebelum cetak tagihan

3. penggunaannya dibatasi untuk sesuatu yang bersifat penting

padahal kartu kredit dipakai untuk berhutang, pakai dulu bayar kemudian, gesek dulu pusing kemudian. haha (ini mungkin hanya terjadi pada saya saja yang berpenghasilan pas-pasan seringnya kurang, tapi bergaya berlebihan).

tidak sedikit orang terjerat oleh efek konsumtifisme kartu kredit, ada yang bisa membatasi hingga 30% dari pendapatan, ada yang sampai 50%, lebih dari 50%, bahkan 100% gajinya habis hanya untuk bayar kartu kredit. kalau sudah seperti ini, apa kata dunia?!?

itu lah sebabnya saya harus bisa membatasi diri dalam menggunakan kartu kredit, sebijak mungkin, agar tidak terjerat ikatan kuat sistem bunga berbunga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s