dalam bekerja, dimanapun itu ada sebuah etika yang harus dijunjung tinggi. kita bekerja, bukan liburan. kita dibayar untuk membantu, bukan untuk merepotkan orang. terlebih jika bekerja dalam suasana kolektif, group, kelompok, dan lain sebagainya.

dalam bekerja sama, maka ada beberapa parameter yang harus dipertimbangkan, beban pekerjaan dari sesama anggota tim, beban pekerjaan tim secara keseluruhan, dan beban pekerjaan yang sudah menjadi bawaan dari tim tersebut. jika anggota tim tidak bisa bekerja sama, maka lebih baik bubarkan saja timnya daripada memberikan kerusakan yang lebih besar.

sayangnya, tidak semua orang mengetahui dan memahami pentingnya bekerjasama dalam tim, pentingnya saling meringankan beban antar anggota tim. entah karena kemampuannya yang di atas rata-rata sehingga anggota tim lain tidak bisa mengikuti, atau ketidakmampuannya bekerjasama. lebih parahnya ketidakmampuannya bekerja. entah apakah karena gengsi dengan latar pendidikan yang tinggi dibandingkan anggota tim sehingga malu untuk bertanya, menutupi ketidakmampuannya dalam menangani suatu masalah, atau kebiasaan bekerja sendiri. jika memang terbiasa bekerja sendiri namun bisa menyelesaikan pekerjaan tidak masalah, tapi jika bekerja sendiri namun tidak menyelesaikan pekerjaan, itu yang harus menjadi pertimbangan.

bagi manajemen, ada banyak pertimbangan untuk menyelesaikan masalah seperti ini. apakah perlu dilakukan sebuah kegiatan untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama, atau melakukan pendekatan persuasif untuk mengetahui latar belakang lemahnya kekuatan kolektifitas. group cohesiveness perlu menjadi pertimbangan lain, sehingga diharapkan di masa yang akan datang, kerja tim akan lebih meningkat, memberikan efek positif dan berdampak pada peningkatan kinerja dan kualitas pekerjaan. budaya perusahaan yang memang harus menjadi perhatian.