hidup optimis

sejenak mari kita merenungkan, untuk apa kita hidup di dunia? jawabannya tentu saja panjang dan berbeda untuk setiap orang.

belakangan ini saya diliputi kegundahan, salah satu topik yang menakutkan adalah mati. ya, mati. bagaimana kalau saya mati, sudah siapkah saya? apa bekal saya? bagaimana keluarga yang ditinggalkan? apakah mereka akan baik-baik saja, sementara saya mati meninggalkan cicilan hutang, tanpa biaya persiapan, dan sebagainya.

menarik untuk disimak, dan menarik untuk dicermati. mati itu urusan esok dan urusan Gusti Allah. hidup, itu urusan kita, saat ini, dan sekarang. karena Gusti Allah pasti ada, memandang dan menjaga setiap kalanya.

banyak problema hidup, datang silih berganti seolah tak ada habisnya. menjadi sebuah pelajaran bahwa problem itu kita sendiri yang undang, kita minta ia hadir, dan ada di antara kita, saking asyiknya dengan problem hingga kadang kita lupa urusan yang lain.

hidup adalah perjuangan,
hidup adalah masalah,
dan hidup adalah hari ini,
bila takut mati maka jangan hidup,
bila takut hidup, mati sekalian

baru sebentar saya hidup, belum tahu perih getirnya hidup seperti yang telah dialami oleh orang-orang sebelum saya. tapi hidup mengajarkan bahwa selalu ada peluang dan kesempatan, sekecil apapun. menjalani hidup memang tak semudah golden ways mario teguh, bersedekah dan beribadah juga tak semudah kata-kata pak ustadz.

hidup seadanya, sesuai kadar kemampuan saja, hidup optimis dengan menyadari dan mensyukuri apa yang ada, apa yang kita punya saat ini. jangan selalu tengadah karena hari tak selalu hujan, tapi jangan pula selalu tunduk, karena tak selamanya tanah yang kita injak basah dan becek.

hidup adalah anugerah, waktu adalah hadiah, apa yang ada kita nikmati setiap saatnya, kita jalani apa adanya. namun bukan berarti kita tak punya mau dan maksud, tapi cukup urung nasib dan sadar diri, sejauh mana kemampuan kita. jangan memaksa sesuatu di luar kemampuan, walau ada yang berpendapat kita bisa melesatkan potensi. cukup perlahan, sedikit demi sedikit naikkan kualitas hidup agar segalanya tampil beringingan dan sejalan.

hidup itu sekarang, maka lakukan apa yang kita bisa, seoptimal yang bisa kita capai, semaksimal yang bisa kita dapatkan. tentunya, optimalkan diri karena yang ada itu hidup optimis dan bukan hidup maksimis.

laa haula, wa laa quwwata, illa billah

-fin-

hidup optimis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s