The Last Samurai

20131027-180239.jpg

Minggu kemarin di kantor, founder perusahaan kami memberikan sebuah pencerahan mengenai sebuah perusahaan besar yang ternyata dahulunya kecil sekali. Perusahaan tersebut adalah reinkarnasi dari perusahaan lain yang bangkrut terlebih dahulu. Saya tidak akan bercerita mengenai berapa omset dan nilai perusahaan tersebut, namun tentang semangat samurai yang ada di lingkungan perusahaan tersebut.

Seorang samurai dikenal dengan kedisiplinan dan kekuatannya dalam memegang teguh keyakinan, serta kesetiaan.

Seorang samurai terkenal dengan disiplin yang dipegang teguh, menyiapkan waktu untuk berlatih mengasah diri. Meningkatkan kemampuan teknis, berperang, strategi, mengelola waktu, dan ilmu-ilmu lain (biasanya kaligrafi, seni, dan bermeditasi sebagai bagian penigkatan kualitas keimanan dan hubungan dengan Tuhannya). Kedisiplinan ini terpancar dari sikap mereka saat berperang, berani mati, dan mengikuti perintah atau arahan dari komandan perang. Mereka tidak mundur ketika berada di tengah peperangan, tidak pula berlari dari peperangan, tetapi mereka bersigap ketika ada perintah serang, bertahan, atau mundur sekalian.

Keyakinan adalah hal penting dalam kehidupan, ketika tidak memiliki keyakinan atas apapun, maka apa yang akan diperjuangkan. Hidup akan hampa karena tidak memiliki apapun untuk dibela, diperjuangkan, dan dipertahankan. Keyakinan adalah hal yang paling mendasar pada jiwa seorang samurai. Mereka akan berbuat apa saja untuk menjaga keyakinan mereka. Keyakinan akan tujuan, keyakinan akan iman, cara hidup, berperilaku, dan lain sebagainya. Demi menjaga keyakinan seorang samurai akan berani mati. Mati saja sudah berani, apalagi menjalani kehidupan. Kalau baru dicoba sedikit, apakah kita bisa menyatakan jika kita masih memegang teguh keyakinan?

Penting bagi seorang samurai untuk dapat menjaga kesetiaan dan keteguhan hati terhadap apa yang ia percayai. Kesetiaan di sini bukanlah kesetiaan pada pasangan, melainkan kesetiaan pada pilihan hidup. Seorang samurai takkan mudah berpaling pada hal yang baru, kecuali jika hal tersebut tidak bertolak belakang dengan pilihan hidup yang dipilihnya. Hidup sebagai samurai.

Di luar konteks itu, kemarin saya berkesempatan berdiskusi dengan seorang teman, kakak, sahabat mengenai arti sebuah nilai dari semangat samurai di atas jika diimplementasikan dalam kehidupan duniawi. Banyak orang skarang telah menjadi oportunis, hanya memanfaatkan kesempatan sehingga ia bisa menjadi bunglon dan berubah sedemikian cepat. Banyak orang yang ingin sukses dan cepat kaya, namun dengan cara yang singkat. Kedisiplinan dalam mengasah diri sedemikian rendah, malas untuk berusaha dan kemudian menyalahkan keadaan dan lingkungan. Padahal sebenarnya diri kita memiliki banyak hal yang belum atau tidak disadari oleh lingkungan, di manapun kita berada.

Mampukah kita mengambil hikmah dan pelajaran dari seorang samurai, yang dengan segala keyakinanna ia akan terus istiqomah atas pilihan hidup yang telah ia pilih? Atau mampukah kita untuk terus mengasah diri, kemampuan, sehingga mampu memunculkan kreativitas dan improvisasi atas apa yang kita ketahui dan kita kuasai? Atau kita hanya berdiam diri untuk kemudian menjadi seorang last samurai. Terakhir karena keadaan tak mampu bersaing, dan bukan terakhir karena pilihan, kesungguhan hati, dan pengejawantahan atas sebuah kesetiaan.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s