ketika resolusi menjadi wish list

 

Hopes

Menjelang hadirnya tahun yang baru, setiap orang seolah-olah berlomba-lomba membuat resolusi. Entah untuk apa, dan entah apakah resolusi tersebut menjadi kenyataan atau hanya sekedar harapan dan angan-angan. Antara kosong dan berisi, terwujud dan terbengkalai, atau bahkan hadir dan terlupakan itu menjadi kisah yang lain lagi. Menurut kateglo.com,

resolusi (n) putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal;

harapan (n) 1 sesuatu yang (dapat) diharapkan; 2 keinginan supaya menjadi kenyataan; 3 orang yang diharapkan atau dipercaya;

Khusus untuk saya, resolusi setiap tahun tak ada bedanya dengan wish-list, angan, harapan, dan bahkan mimpi yang memang harus diusahakan untuk menjadi kenyataan. Tapi tidak ngoyo, tidak maksa, dan tidak terlalu tinggi juga. Menyusun sebuah harapan bukanlah hal yang mudah, karena itu akan menjadi patokan dan parameter kualitas hidup. Apakah cukup dengan menuliskan harapan bahwa tahun depan saya akan menjadi pribadi yang lebih baik? Rasanya kalimat itu terlalu luas dan ambigu. Tak ada nilai atau parameter yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur sejauh mana ketercapaian pengharapan tersebut.

Menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik tidak selayaknya menjadi sebuah harapan, menunaikan ibadah dengan lebih rutin dan teratur pun tidak sepantasnya menjadi sebuah harapan, menjadi seorang ayah yang baik, menjadi seorang suami yang baik, itu bukanlah sebuah harapan. Itu bukan sekedar harapan, itu adalah kewajiban.

Lantas, apa yang sesungguhnya dijadikan sebagai sebuah harapan? Bagi saya harapan adalah sebuah gambaran kecil mimpi yang akan kita jawantahkan menjadi kenyataan. Misalnya, tahun depan saya ingin punya perusahaan kecil, atau tahun depan saya ingin renovasi rumah, buat saya itu harapan. Tentunya definisi ini akan menjadi sangat debatable. Tapi tak apa, yang penting saya bisa mendefinisikan apa yang ingin saya buat dan saya capai. Akan lebih mudah jika membuat harapan yang memang sifatnya kuantitas, sehingga bisa dilihat pencapaiannya secara langsung, dan dapat dikenali dengan mudah sudah sampai tahapan mana dilakukan. Sehingga harapan yang disusun pun adalah hal-hal kecil yang sekiranya sanggup untuk digapai. Jika diturunkan maka tahun depan yang ingin dilakukan adalah renovasi rumah, punya motor matic, punya mobil -ini masih jadi pertimbangan-, mengikuti berbagai pelatihan dan seminar, kembali aktif di dunia komunitas, dan memiliki bisnis kecil tapi expandable.

Tahun ini adalah tahun yang berbahagia, saya dan istri kembali diberikan amanah berupa janin anak kami yang kedua. Anak kami yang pertama sudah berusia 3 setengah tahun, dan tahun depan adalah tahun pertamanya memasuki lingkungan sekolah (TK). Tentunya harapan kami berdua tahun depan adalah bisa memasukannya ke dalam sekolah yang sesuai dengan pola asuh didik kami, dimana menyeimbangkan antara pendidikan emosi dan pendidikan fisik. Kami tidak mau jika anak kami pintar tapi curang, pendidikan atas akhlak itu menjadi prioritas, karena itu yang akan menjadi bekal karakternya suatu saat nanti. Dedikasi, berpendirian teguh atas kebenaran dan nilai yang ia anut. Harapan tersebut sudah dimulai langkah dari saat ini, memilih sekolah yang tepat untuknya, bahkan mendaftarkannya jauh sebelum pembukaan pendaftaran dibuka. Agar dapat lolos dan tidak masuk ke dalam daftar tunggu.

2014 sudah dalam hitungan hari, tidak pantas lagi mempertanyakan kesiapan untuk menghadapinya. Harus berani menghadapi kenyataan. Lebih berusaha mencari peluang dan kesempatan-kesempatan yang mungkin akan hadir kapan saja. Resolusi hanya akan menjadi sekadar angan-angan, ketika kita menuangkan resolusi yang terlampau tinggi, atau di luar jangkauan. Biarlah resolusi itu sederhana, hanya berbentuk daftar harapan atau angan-angan, tapi lebih dekat dengan daya jangkau. Bukan tidak optimis, hanya mencoba realistis.

img-src

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s