Pekerjaan Rumah Pasca Anak Liburan

Tidak terasa hampir 5 minggu Qisthy liburan di rumah neneknya. Selama itu kami tidak bertemu secara intensif, hanya dua minggu sekali yang memungkinkan karena keseharian saya dan istri berkegiatan di tiga kota sekaligus. Sebenarnya bisa seminggu sekali, tapi harus menjaga kondisi fisik juga karena perjalanan yang cukup melelahkan untuk ditempuh pulang pergi setiap minggu, ditambah faktor banjir musiman di sekitar ranca ekek yang kadang melambungkan jam perjalanan hingga dua sampai tiga kali lipat.

Selama waktu liburan, tentunya ada beberapa aktivitas rutin anak yang bergeser dan berubah. Kehadiran adik barunya di tengah-tengah kami cukup membuat kerepotan karena harus berbagi peran. Bagaimana caranya agar perhatian pada keduanya tetap tercurah penuh tanpa ada diskon sedikitpun. Tapi ternyata ketika harus mengasuh sendirian istri agak sedikit kelimpungan, bukan karena kurangnya perhatian, namun karena si kakang meminta “perhatian lebih” dan agak sulit dipenuhi karena faktor sedang menyusui.

Sebelum pulang, kami berdua berbicara dahulu mengisi perubahan sikap, sifat, dan aktivitas si kakang baru-baru ini. Kurang fokus, cenderung cuek dan abai, juga semakin ngeselin. Tapi, ada sisi positif yang juga berkembang diantaranya adalah kemampuannya menyambung-nyambungkan sesuatu sehingga tampak logis, tapi kelihatan kalau ia menyatakan apa yang ada di kepalanya. Saya lebih senang itu daripada jika ia harus berbohong. Hari ini, ketika ia memainkan pintu, kemudian ibunya memintanya untuk berhenti takut dia cedera atau luka, karena ia nampaknya tidak berdamai dengan kaca dan pintu.

Mamam: “A, pintunya biarin dibuka aja. ga usah dimainin buka tutup atuh …”

Qisthy: “nggak mam, pintunya kok yang pengen dimainin”

OK. akal dan logikanya mengalami perkembangan cukup baik, yang berarti akan sedikit menyulitkan ketika harus berbicara atau menyampaikan sesuatu, karena mungkin sudah masuk umurnya ia berkata “kenapa?”, “mengapa?”, “dimana?”, dan lain sebagainya. Mau tidak mau, abah sama mamamnya harus upgrade ilmu lagi, agar kemampuan komunikasi kami bisa setara dengan umurnya. Itu baru dari sisi komunikasi. Dari sisi tidak fokus, nampaknya harus kembali mengulang pelajaran komunikasi efektif, mata ketemu mata, dan kembali mengajarkannya.

Masalah belajar, sebulan lebih berhenti bermain dan menggambar. Dia sekarang tertarik dengan membuat huruf dan angka melalui bantuan titik-titik untuk disambung-sambung. Walaupun sepupu seusianya sudah bisa baca tulis (4y) tapi anak kami memang tidak diajarkan. Biarkan saja dia bermain semaunya, maksudnya sih biar ga bosen ketika dia harus menghadapi kenyataan sekolah yang sebenarnya. Jadi harus banyak lagi mempersiapkan bahan dan kebutuhan untuk memenuhi ketertarikannya.

Pekerjaan rumah itu masih banyak dan sudah dihadapan mata, mari kita bekerjasama, istriku. heu heu heu.

Welcome Back Home, Akang Qisthy ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s