Maafkan Abah, Kang

hari ini saya sangat marah sama si sulung, entah harus bagaimana saya menghadapi dan menahan rasa marah ini. kenapa ia banyak melakukan hal yang berkebalikan dengan apa yang saya ucapkan.
apakah saya yang salah memberikan informasi?

apakah informasi yang saya berikan tidak dapat ia tangkap dan cerna?

kadang, sebagai orang tua saya terlalu egois, hanya memikirkan agar ia menurut, dan kerap kali saya lupa, bahwa ia punya banyak sekali energi untuk disalurkan.

kadang, saya merasa menyesal saat melihatnya tertidur dengan sangat lelap, walau sebelumnya ia merasa sangat terluka karena ucapan-ucapan saya

kadang, saya merasa percuma telah membaca banyak buku, mengikuti kegiatan, dan berbagai sumber lainnya, tapi saya tidak mampu merealisasikannya dengan benar dan sampai.

saya masih harus belajar bagaimana menjadi orang tua, yang bisa menjadi sahabat untuk anak saya. ia harta saya, yang harus dijaga, harus benar-benar dirawat, atau saya akan kehilangan dia seumur hidup saya.

maafkan aku, anakku. sakit dada ini menahan amarah, bukan karena marah, tapi karena tak ingin kau terluka, sakit, jatuh, dan malu esok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s