Mudik lebih lama

Edisi pulang ke kampung halaman saat ini memang relatif lebih lama jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

1. Bertepatan dengan libur sekolah

Liburan lebaran kali ini bersamaan dengan liburan anak sekolah. Sejak si cikal masuk SD, kesempatan untuk berlibur di Ciamis menjadi sangat terbatas. Selain waktu tempuh perjalanan yang lebih lama, juga biasanya karena waktu yang tidak pas antara liburan dia dengan jadwal proyek bapaknya.

2. Pakai angkutan umum

Biasanya mudik berangkat sendiri, pulang nebeng sama kaka. Sekarang kami berdua tidak punya kendaraan sendiri, sehingga pulang pergi pakai angkutan umum. Naah, saya termasuk orang yang mudah stress kalau tidak dibalik kemudi, terutama saat macet. Oleh karena itu, memilih waktu yang relatif luang menjadi titik tengah saat melakukan perjalanan.

3. Pekerjaan relatif bisa diremote

Alhamdulillah, beberapa pekerjaan bisa diremote. Walau kemarin saat menjelang mudik ada pekerjaan dadakan yang harus disegerakan. Memiliki tim yang kompak (dan sangat berbesar hati) adalah salah satu kelebihan di kantor ini. Love them.

Total waktu mudik, H-7 sampai dengan H+8. Lumayan lama ya.

Gagal Leasing

Ini cerita saudara dekat saya, beliau leasing mobil second. Perjanjian selama 4 tahun, dengan bulanan sekitar 2 jutaan.

Setelah 2 tahun, usahanya mogok lalu mobil ditarik, pas itung2an ternyata pelunasan masih banyak, dalam artian selama cicilan, utang pokoknya tidak sampai setengahnya terbayar.

Ngeri banget emang, ga beres-beres. Itu adalah salah satu contoh kegagalan leasing, kalau cicilan lancar sih tenang-tenang wae.

Paytren

Beberapa kali saya kesulitan membeli token listrik, ngisiin pulsa, bahkan pesan tiket kereta.

Akhirnya saya ikutan sebuah program yang bertajuk paytren. Program yang digagas oleh ustadz yusuf mansyur. Program yang punya gagasan baik, dan insyaAllah bermanfaat buat umat. Agar keuntungan bisa kembali ke masyarakat pemegang modal lemah, bukan hanya mereka pemegang modal besar.

Gambar di atas menyajikan menu-menu transaksi yang sering saya gunakan, yang paling sering akan digunakan adalah beli token pln, pulsa, tiket kereta, dan voucher games. Tersedia juga menu pilihan transaksi yang lain, seperti BPJS, PDAM, TV Pra Bayar, daaan masih banyak lagi.

Menarik memang. Semoga bermanfaat bagi lingkungan di sekitar, memudahkan kebutuhan transaksi saya sendiri dan juga teman-teman di sekitar. Di postingan yang akan datang, akan saya ulas tentang paytren ini sendiri. Sekarang mah masih belajar, doain aja biar saya cepet bisanya, cepet bisa manfaat buat yang lain. Al Fatihah.

Mulai dari nol

Ini bukan kata pengantar dari petugas SPBU saat akan mengisi bensin ke kendaraan kita. Ini lebih ke arah pernyataan ketika kita akan mereset sesuatu, ketika kita ingin beranjak dari satu posisi ke posisi yang lain.

Nampaknya berat, namun jika ditunda akan semakin berat. 

Harus mulai dari mana? Pertanyaan itu muncul pertama kali, dan terus muncul. Move on  itu bukan hal yang mudah, move on tak segampang melupakan kekesalan.

Memilih langkah yang salah, menetapkan keputusan yang salah, menimbang dua hal yang salah, bahkan sekedar mengestimasipun bisa salah.

Mulai dari nol, setidaknya ayunkan langkah saat kita sudah siap. Bukan kita, tapi saya.

Plasseur and Theurer

Setelah dua malam si ade ngamuk karena saya memilih tarawih di mesjid agung dibandingkan bermain diecast bersamanya, tadi siang ia diajak ke stasiun untuk melihat kereta api.

Saat tiba di stasiun, kami masuk ke dalam untuk melihat kereta api. Ternyata tidak ada kereta lewat jam segitu. Tapi, ada hal menarik, ada ‘transformer’ berwarna kuning yang nampak asing baginya. Ia hanya diam dan sesekali bertanya “itu apa?”

photo_2017-06-24_00-07-42

Usut punya usut, setelah saya bertanya kepada beberapa teman yang nota bene adalah para ‘rail fans’, mesin itu adalah mesin perawatan keluaran Plasser and Theurer, perusahaan yang berbasis di Austria. Mesin tipe ini berfungsi untuk perawatan geometri rel dengan cara mengangkat, menggeser, menimbang, dan memadatkan batu di bawah bantalan rel.

Pantas saja saat saya amati beberapa benda geometrikal ada di sana, seperti benang (kabel tipis), beberapa perangkat benda miring sederhana, sampai ada pengukur kemiringan segala. Menariknya adalah, perangkat tersebut cukup modern padahal jika dilihat dari usianya nampaknya ini mesin sudah lama. Sistem hidroliknya, yaa ampuuun, keren.

Mesin yang ada di rel sebelahnya -temen rail fans bilang itu sebuah lori-, memiliki sistem hidrolik di bawahnya, sehingga jika akan berputar maka ia naik beberapa senti di atas rel kemudian diputar oleh para mekanik. Woooow amazing keren sekali, saya baru lihat mesin seperti ini.

Keren lah buat saya yang urakan mah πŸ˜€

Scheduling

Perbaiki Jadwal Solatmu agar Allah Mengatur Jadwal Hidupmu*

Sebagai bagian dari mereka yang pernah belajar tentang scheduling (penjadwalan) tentu akan sepakat bahwa sesungguhnya penjadwalan adalah bagian penting dari sebuah perencanaan. Ada banyak teori yang menyatakan bagaimana sebaiknya penjadwalan itu dibuat. Bahkan, penjadwalan ini akan sangat erat hubungannya dengan floor plan sampai harus dihitung waktu bakunya. Intinya, semakin baik penjadwalan maka akan semakin efektif proses produksi yang dilakukan dan semakin efisien biaya yang dikeluarkan.

Tapi bagaimana dengan penjadwalan dalam kehidupan kita? ah, kebetulan saat ini penjadwalan saya sekarang sedang berantakan, banyak hal yang luput padahal biasanya segala sesuatu saya perhitungkan dan estimasi. Usut punya usut ternyata jadwal sholat saya beratakan. Kalau orang lain merasakan manfaat dari memperbaiki sholat yang berdampak pada membaiknya kehidupan mereka, maka saya termasuk ke dalam golongan yang satu lagi, mereka yang berantakan hidupnya karena jadwal sholatnya yang berantakan.

Entah sejak kapan saya merasa lalai, entah sejak kapan saya sholat selalu di waktu injury time. Sehingga tidak jarang jadwal kegiatan yang sudah dirinci sedemikian rupa berantakan di saat-saat terakhir, entah karena miskomunikasi, entah karena hambatan eksternal atau karena kesalahan non-teknis. Miris memang.

Suatu ketika saya pernah mentertawakan (dalam hati) seseorang yang ingin memperbaiki jadwal sholatnya, dan sekarang saya merasakan betapa sombongnya saya saat itu, padahal sholat subuh aja tekor mulu. Sholat dzuhur malah duluin makan dulu, sholat ashar santai dulu, sholat maghrib malah saya tempel ke isya karena masih di jalan, eh pas giliran sholat isya saya tunda ke tengah malam. What kind of fuckin life that I have today, shameless one.

Maka semuanya harus diawali dengan niat, maka semuanya harus diawali dari keinginan, maka semuanya harus diawali dengan rasa syukur. Mungkin saya termasuk orang terkena hukuman istidraj, mungkin juga saya tengah dihukum di dunia. Bukan dengan siksaan, tapi dengan kesulitan mendirikan sholat dengan baik. Sehingga salah seorang sahabat saya mengatakan, mungkin sholat saya kecepetan, mungkin sholat saya berantakan. Walaupun ia saya dirikan, tapi mungkin ia tak berdiri, sholatnya hanya sebagai penggugur kewajiban dan bukan pemenuh kebutuhan. Ampun Gusti.

Ketika kegelisahan muncul bukan karena lemahnya diri, tapi karena melihat orang lain lebih kuat. Bukan karena kekurangan diri, tapi karena melihat orang lain berkelebihan. Padahal tiap orang memiliki porsinya masing-masing. Padahal tiap orang memiliki jatah rezekinya masing-masing, padahal tidap orang memiliki jalan kesuksesan dan kebahagiaan masing-masing.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, dan akan selalu begitu adanya. Walau sekedar urusan sudut pandang, tapi ini dapat berakibat fatal.Bisa jadi orang lain tak mengeluh bukan karena tidak memiliki masalah, tetapi karena lihai menyembunyikan keluh kesahnya. Bisa jadi orang lain terlihat selalu bahagia, padahal bisa jadi karena ia bisa bersyukur dengan kekurangan yang dimilikinya.

Ini lah saya saat ini, selalu merasa tidak beruntung, selalu merasa gelisah, selalu merasa tidak tenang. Dan bisa jadi permasalahan itu berawal dari dua buah sebab. Karena jidat saya sudah jauh dari sajadah, dan mata saya jarang bertemu dengan barisan huruf arab.

Ampuni aku, Gusti. Mohon ampunan. mohon ampunan. mohon ampunan. gerakkan hati ini, gerakkan jiwa ini, gerakan nafsi ini. terangi ia, hilangkan kegelapan di dalamnya.

 

*disclaimer. saya belum mendapatkan sumber asli dari frase tersebut. frase tersebut bukanlah milik saya, tapi sering saya baca dalam berbagai tulisan.