Ayah,… Ayah,… Ayah,…

Pagi ini mendapatkan cerita ini di WA group, entahlah, rasanya ingin mengabadikan cerita ini di blog sebagai pengingat dan pembelajaran

Sharing dari seorang teman

*SEBUAH KISAH TENTANG CINTA*

Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk².

“Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan”, kata ibu.
Aku mendengarkan ibu dengan heran.

“Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.
Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki² tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang”, kata ibu.

“Ibu memang sering menelponmu.
Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan.

Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?
Dia bilang, “Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik”.

“Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang.
Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.
“Alangkah cantiknya anak kita ya bu,” kata ayahmu sambil menyeka air matanya.

Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.

Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.

Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yg kuminta.
Ibu heran. “Tidak jadi ke dokter?” tanya ibu. “Kapan² saja.
Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri”
Kata ayah.

Rupanya biaya ke dokter, uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.

“Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar.
Kau tahu apa yg dilakukan?” tanya ibu.

Aku menggeleng. “Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.
Air matanya membasahi sajadah.

Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu.
Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.

Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.

Lama sekali dia sujud sambil terisak.
Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu.
Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya”.

Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.

Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.
Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.

“Kau habis menangis?”
Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.
“Oh, tidak ayah!” aku tertawa renyah.
Ku pijit betisnya lalu pundaknya.
“Pijitanmu enak sekali seperti ibumu”, katanya sambil tersenyum.

Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian.

Itulah pertama kali aku memijit ayah.
Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.

“Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku.
Nanti sore ayah kuantar ke dokter”, kataku. Ayah menolak. “Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri”.

“Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku”, kataku berbohong.

Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter.

Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter.
Aku bawa ayah ke dokter spesialis.

Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum.

Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.
Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.

Ibu bertanya setengah protes. “Dari mana biayanya?”.
Aku tersenyum.
“Aku yg menanggung seluruhnya bu.
Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku.

Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah.
Aku bisa! Aku bisa bu!”.

Kepada dokter aku berbisik; “Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya”, kataku. Dokter tersenyum.

Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk membayar keinginannya di stasiun dulu.
“Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu”, kataku.
Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, aku berfikir, berapa banyak anak yg tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku.

Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.

Hari² berikutnya aku selalu berdoa :
“Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira”.

Namun kini dengan perasaan berbeda.
Terbayang ketika ayah bersujud pada hari pernikahanku sampai sajadahnya basah dengan air mata…betapa besar cinta kasih seorang ayah Tidaklah jauh berbeda dgn cinta kasih seorang ibu.

Semoga Allah masih memberikan waktu yg cukup, untuk aku bisa lbh lama lagi memijit kaki ayah, memeluk dan menumpahkan cintaku pada Ayah. Spt cintaku pada Ibu….aamiin..

Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira…

Ya Allah ampunilah dosaku juga dosa orangtuaku, jagalah mereka seperti mereka merawatku di waktu kecil…
Selamat pagi dan selamat beraktivitas.

Advertisements

jalan kopo lancar

apakah mungkin jalan kopo akan selancar dulu lagi? entah apa yang sesungguhnya tengah terjadi.
kemacetan semakin menggila, semakin menggurita dan menyebabkan pemborosan di segala urusan. waktu, biaya, bahan bakar, bahkan tingkat stress yang juga semakin naik.

apakah dengan pengadaan transportasi masal, pengurangan jumlah angkutan umum, dan peningkatan kualitas transportasi umum dapat mengubah pola transportasi masyarakat yang ada saat ini? saya kira tidak.

kepemilikan kendaraan bermotor yang ada saat ini sesungguhnya didasarkan pada kebutuhan transportasi rumah yang jauh dari jalan aspal, atau tingginya tingkat pengeluaran pada pos transportasi.

sebagai bayangan, kebutuhan transportasi saya ke kantor sehari bisa 30 ribu pulang pergi, padahal jika menggunakan motor maka biaya tersebut bisa untuk seminggu.

lain halnya ketika saya harus pergi ke jatinangor, opsi menggunakan damri saya tempuh, dengan memarkirkan motor di terminal. hanya saja, pelayanan dan tingkat keamanan parkir ini harus ditingkatkan agar pengguna transportasi memiliki rasa tenang dan aman.

lalu bagaimana dengan jalan kopo? salah satu jalan yang sudah terkenal kemacetannya sampai ke ujung afrika. apakah keberadaan tol soroja dapat menurunkan tingkat kemacetan di jalan kopo yang sudah sedemikian kronisnya?

bagaimana kemudian meningkatkan aspek awareness bagi para supir angkot agar tidak ngetem di titik-titik seksi yang mengakibatkan kemacetan panjang, padahal sesungguhnya kemacetan itu adalah yang paling ditakuti semua orang.

titik ngetem angkot soreang yang saya tahu ada beberapa:
1. sejak perempatan kopo – soetta hingga perempatan caringin cibaduyut
2. seberang terminal leuwi pa

Websites

pada awalnya, website dibuat hanya sebagai media untuk berbagi hasil informasi saja. sebuah halaman yang tersedia di Internet dan menyediakan dokumen-dokumen yang ada dan ingin dipublikasikan.

mungkin, Tim Berners Lee tidak menyangka bahwa apa yang dulu ia gagas dan ia coba publikasikan mengalami perkembangan yang pesat, hingga pada akhirnya  semua pengguna Internet tidak dapat lepas dari apa yang disebut dengan website.

website yang begitu beragam, website yang awalnya begitu sangat sederhana kini menjelma menjadi sebuah produk hasil teknologi yang memiliki kekuatan yang teramat sangat. mulai dari berceloteh seperti ini hingga menjadi sebuah portal dimana bisnis dibangun dan saling membangun satu sama lain.

teknologi website kini semakin canggih dan memudahkan. jika dulu pada awalnya membuat website itu harus diawali dari nol, kini kita hanya tinggal menjentikkan jari, menekan tombol, mengklik, memberi nama, memberi judul, membuat sebuah postingan, dan jadilah ia.

semoga saja, perkembangan ini dibarengi dengan tanggung jawab yang utuh dari para penggunanya.

menghindari kemacetan di kota Bandung

sebuah keniscayaan untuk menghindari kemacetan di kota Bandung, karena nyatanya kota Bandung sudah diduduki bahkan sudah diakuisisi oleh kemacetan yang semakin menggila, menggurita, mendarah daging, hingga pusingnya sampai ke ubun-ubun.

saya sendiri tipikal orang yang paling pusing menghadapi kemacetan, bukannya waktu jalan-jalan dihabiskan untuk menikmati keindahan kota, yang ada hanyalah memandang gawai bertajuk google maps, waze, atau twitter, sekedar untuk mengetahui apa yang terjadi 50 meter di depan, sehingga saya tak kunjung bergerak dan berpindah lokasi.

mengenali kegiatan atau event yang tengah berlangsung menjadi salah satu opsi mengetahui titik-titik rawan kemacetan yang ada, informasi tentang perbaikan jalan, gorong-gorong, bahkan waktu pulang sekolah turut menyumbang apakah kita akan mengarungi lautan kemacetan atau tidak.

namun, terdapat beberapa waktu dimana Bandung akan ‘sedikit lepas’ dari kemacetan, yaitu saat warganya beribadah Nonton Persib. kemacetan akan sedikit berpindah ke tempat-tempat parkir, kafe-kafe tempat diselenggarakannya nobar, bahkan pindah ke Stadion yang agak jauh dari pusat keramaian.

weekend adalah kontrak mati kemacetan, maka sebaiknya kita menghindari pusat kota, jalanan ke arah lembang, jalanan ke arah ciwidey, dan jalanan ke mall-mall. bermainlah di area pinggiran, agar setidaknya kemacetan tidak akan menghabiskan bensin dan uang kita, terutama waktu. karena terjebak dalam kemacetan tak lebih indah jika dibandingkan dengan terjebak cinta segi tiga.

Beban dan Malapetaka

Sebuah sistem yang terdiri dari banyak elemen membutuhkan sebuah keseimbangan agar interaksi di antara masing-masing penyusun sistem dapat terjalin dengan harmonis dan dinamis.

Berbagi peran dan beban memang tak selamanya bisa diserahkan pada mekanisme pasar, ada kalanya harus dibagi. Kalau tidak keberatan beban hanya akan menghasilkan ketidakseimbangan, dan malapetaka.