Plasseur and Theurer

Setelah dua malam si ade ngamuk karena saya memilih tarawih di mesjid agung dibandingkan bermain diecast bersamanya, tadi siang ia diajak ke stasiun untuk melihat kereta api.

Saat tiba di stasiun, kami masuk ke dalam untuk melihat kereta api. Ternyata tidak ada kereta lewat jam segitu. Tapi, ada hal menarik, ada ‘transformer’ berwarna kuning yang nampak asing baginya. Ia hanya diam dan sesekali bertanya “itu apa?”

photo_2017-06-24_00-07-42

Usut punya usut, setelah saya bertanya kepada beberapa teman yang nota bene adalah para ‘rail fans’, mesin itu adalah mesin perawatan keluaran Plasser and Theurer, perusahaan yang berbasis di Austria. Mesin tipe ini berfungsi untuk perawatan geometri rel dengan cara mengangkat, menggeser, menimbang, dan memadatkan batu di bawah bantalan rel.

Pantas saja saat saya amati beberapa benda geometrikal ada di sana, seperti benang (kabel tipis), beberapa perangkat benda miring sederhana, sampai ada pengukur kemiringan segala. Menariknya adalah, perangkat tersebut cukup modern padahal jika dilihat dari usianya nampaknya ini mesin sudah lama. Sistem hidroliknya, yaa ampuuun, keren.

Mesin yang ada di rel sebelahnya -temen rail fans bilang itu sebuah lori-, memiliki sistem hidrolik di bawahnya, sehingga jika akan berputar maka ia naik beberapa senti di atas rel kemudian diputar oleh para mekanik. Woooow amazing keren sekali, saya baru lihat mesin seperti ini.

Keren lah buat saya yang urakan mah 😀

Advertisements

Scheduling

Perbaiki Jadwal Solatmu agar Allah Mengatur Jadwal Hidupmu*

Sebagai bagian dari mereka yang pernah belajar tentang scheduling (penjadwalan) tentu akan sepakat bahwa sesungguhnya penjadwalan adalah bagian penting dari sebuah perencanaan. Ada banyak teori yang menyatakan bagaimana sebaiknya penjadwalan itu dibuat. Bahkan, penjadwalan ini akan sangat erat hubungannya dengan floor plan sampai harus dihitung waktu bakunya. Intinya, semakin baik penjadwalan maka akan semakin efektif proses produksi yang dilakukan dan semakin efisien biaya yang dikeluarkan.

Tapi bagaimana dengan penjadwalan dalam kehidupan kita? ah, kebetulan saat ini penjadwalan saya sekarang sedang berantakan, banyak hal yang luput padahal biasanya segala sesuatu saya perhitungkan dan estimasi. Usut punya usut ternyata jadwal sholat saya beratakan. Kalau orang lain merasakan manfaat dari memperbaiki sholat yang berdampak pada membaiknya kehidupan mereka, maka saya termasuk ke dalam golongan yang satu lagi, mereka yang berantakan hidupnya karena jadwal sholatnya yang berantakan.

Entah sejak kapan saya merasa lalai, entah sejak kapan saya sholat selalu di waktu injury time. Sehingga tidak jarang jadwal kegiatan yang sudah dirinci sedemikian rupa berantakan di saat-saat terakhir, entah karena miskomunikasi, entah karena hambatan eksternal atau karena kesalahan non-teknis. Miris memang.

Suatu ketika saya pernah mentertawakan (dalam hati) seseorang yang ingin memperbaiki jadwal sholatnya, dan sekarang saya merasakan betapa sombongnya saya saat itu, padahal sholat subuh aja tekor mulu. Sholat dzuhur malah duluin makan dulu, sholat ashar santai dulu, sholat maghrib malah saya tempel ke isya karena masih di jalan, eh pas giliran sholat isya saya tunda ke tengah malam. What kind of fuckin life that I have today, shameless one.

Maka semuanya harus diawali dengan niat, maka semuanya harus diawali dari keinginan, maka semuanya harus diawali dengan rasa syukur. Mungkin saya termasuk orang terkena hukuman istidraj, mungkin juga saya tengah dihukum di dunia. Bukan dengan siksaan, tapi dengan kesulitan mendirikan sholat dengan baik. Sehingga salah seorang sahabat saya mengatakan, mungkin sholat saya kecepetan, mungkin sholat saya berantakan. Walaupun ia saya dirikan, tapi mungkin ia tak berdiri, sholatnya hanya sebagai penggugur kewajiban dan bukan pemenuh kebutuhan. Ampun Gusti.

Ketika kegelisahan muncul bukan karena lemahnya diri, tapi karena melihat orang lain lebih kuat. Bukan karena kekurangan diri, tapi karena melihat orang lain berkelebihan. Padahal tiap orang memiliki porsinya masing-masing. Padahal tiap orang memiliki jatah rezekinya masing-masing, padahal tidap orang memiliki jalan kesuksesan dan kebahagiaan masing-masing.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, dan akan selalu begitu adanya. Walau sekedar urusan sudut pandang, tapi ini dapat berakibat fatal.Bisa jadi orang lain tak mengeluh bukan karena tidak memiliki masalah, tetapi karena lihai menyembunyikan keluh kesahnya. Bisa jadi orang lain terlihat selalu bahagia, padahal bisa jadi karena ia bisa bersyukur dengan kekurangan yang dimilikinya.

Ini lah saya saat ini, selalu merasa tidak beruntung, selalu merasa gelisah, selalu merasa tidak tenang. Dan bisa jadi permasalahan itu berawal dari dua buah sebab. Karena jidat saya sudah jauh dari sajadah, dan mata saya jarang bertemu dengan barisan huruf arab.

Ampuni aku, Gusti. Mohon ampunan. mohon ampunan. mohon ampunan. gerakkan hati ini, gerakkan jiwa ini, gerakan nafsi ini. terangi ia, hilangkan kegelapan di dalamnya.

 

*disclaimer. saya belum mendapatkan sumber asli dari frase tersebut. frase tersebut bukanlah milik saya, tapi sering saya baca dalam berbagai tulisan.

Putus sama kartu kredit

Gampang-gampang susah putus ama dia. Gampangnya tinggal datengin card center, gunting, beresin tagihan, kelar. Susahnya, kadang butuh dia buat booking ini dan itu. Hotel, tiket, bahkan bayar tagihan kalau belanja di Internet.

Alhasil, hubungan kami menggantung.

Tagihan semua dilunasin, tapi statusnya dibiarin aja. Memang ini adalah salah satu risiko kalau bergantung sama sistem keuangan yang udah ada.

Tinggal nguatin hati sama niat aja, konsisten. Karena godaannya, hmmmm,….

ketika bulan madu usai

Sangat menarik memang ketika ada harga gawai yang murah, dengan persyaratan cukup berlangganan layanan selama 1 tahun saja. Sayangnya, ketika persyaratan tersebut dibundling, agak-agak nggak enak di ujungnya.

Sudah beberapa kali saya beli gawai dengan sistem bundling ini, sebut saja smartfren andromax. Pertama saya beli Andromax R2 kemudian saya beli lagi Andromax Pureshot+2. Secara operasional lancar-lancar saja, namun secara penggunaan kuota Internet, di sini kita merasa agak-agak ga bebas.

Kedua perangkat tersebut sudah memiliki kapabilitas 4G, sayangnya hanya 1 slot saja dan itu dikunci hanya untuk smartfren. Alhasil, sudah hampir setahun ini kuota 4G dari operator lain tidak dapat saya gunakan (gawai menggunakan 2 slot simcard).

Jadi mikir lagi kalau suatu saat mau beli gawai, karena keterbatasan sinyal di beberapa lokasi atau malah potensi mubazirnya kuota dari provider lain harus diperhitungkan.

Bulan madunya indah, pas awal-awal 100 ribu pulsa smartfren bisa beli kuota sampai lebih dari 10 GB, sekarang hanya 5 GB saja. Sedangkan XL bisa dapat 12 GB dengan harga 89 ribu. Ujung-ujungnya hitung-hitungan juga sih. Ooredo malah bisa nahan kuota Internet (akumulatif), sementara Telkomsel masih konsisten dengan mahalnya 😀

Mana kuota Internet termurah dan reliable, maka kuota Internet itu lah yang saya beli 🙂

Mudik 1438 H

Mudik kali ini waktunya dipercepat, alasannya sederhana. Kebagian travel hanya hari senin (19 Juni 2017) saja. Alhamdulillah, belum dititipi amanah punya kendaraan roda 4, jadi harus mengikuti ketersediaan jadwal travel. Ditambah ada beberapa urusan domestik yang harus diselesaikan terlebih dahulu di lokasi tujuan.

Seminggu sebelumnya datanglah jadwal dadakan pekerjaan, kontak sana-sini, tapi ternyata nggak ada jadwal travel kosong. Alhasil, mudik meninggalkan tim yang harus beberes di Bandung. Duh, ada perasaan bersalah juga di dalamnya, kalau udah rieut gini teh, serasa pengen loncat ke dealer depan komplek terus beli Pajero Sport. Heu heu heu. Cash tanpa credit, tapi sayang, keburu bangun dari mimpi.

Perjalanan relatif cepat, karena memang belum ada antrian di jalan. Hanya ada beberapa hambatan saja seperti pasar tumpah dan beberapa kendaraan besar yang mogok sehingga perjalanan sedikit terhambat.

Untungnya beberapa pekerjaan bisa dilakukan dengan remote, walau memang ada beberapa pekerjaan besar yang seharusnya saya berada di sana. Tapi apa boleh buat.

Sekarang, sudah tiba saatnya mencicipi hidangan kuliner lokal, walau kali ini mudik dengan low budget, hahaha. Sebagai konsekuensi membereskan urusan sama kartu kredit. Yay

Bertabur Bintang tak berarti Menang

Setidaknya itulah yang terjadi pada Persib. Barisan pemain berbandrol mahal, bahkan sampai mendapatkan julukan sebagai tim dengan bench cadangan termewah.

Banyaknya pemain bintang tidak kemudian menjadikan persib sebagai tim selalu menang. Rekor tak terkalahkan (seringnya sih imbang) pecah di Bali, setelah Persib dipaksa takluk oleh Bali United.

Persib harus secepatnya berbenah, khususnya harus disuntik motivasi.

Bermain cantik, bermain semangat, dan bermain penuh gairah. Menang kalah tak jadi masalah, tapi melihat permainan yang tidak monoton, kreatif, agresif, dan mangprang tentunya akan membuat bobotoh bahagia.

Rék éléh rék menang, bobotoh bersama Persib

Pengelolaan

pengelolaan itu juga seni, bukan sekadar urusan teknis

Pengelolaan, orang pintar nyebutnya manajemen, orang lebih pintar nyebutnya sistem, yang lain lagi nyebutnya ngurusin. Segala atribut disebutkan untuk urusan yang satu ini, berbagai tujuan dituliskan, berbagai gaya diterapkan. Padahal, ujung-ujungnya sama, bagaimana meningkatkan produktivitas. Itulah sesungguhnya hal yang dicari.

Meningkatkan produktivitas bukanlah sebuah hal yang berdiri sendiri, ada banyak aspek di dalamnya, mulai dari supply bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang kontinyu dan terkontrol (pengawasan kualitas), sampai dengan distribusi bahan akhir yang menjadi salah satu bagian penting. Percuma Sayang bikin barang bagus kalau ga bisa dijual.

Pengelolaan itu juga seni, bukan sekedar urusan teknis. Ngurus orang itu ga bisa sekedar hanya ngomong A dan B, kadang harus ditunjukkan, kadang harus dibelai, kadang harus dipecut, kadang juga harus diberikan tekanan. Ngurus mesin mungkin lebih mudah, proses maintenance-nya relatif terukur (walau kadang mahal dan harus ditangani oleh orang yang tepat). Tapi mengurusnya tidak perlu pakai perasaan, dan parameternya relatif lebih sederhana dibandingkan ngurus orang. Mengelola sebuah sistem yang berisi manusia sedikit banyak jauh lebih rumit, banyak hal yang bersifat elementer yang perlu dipikirkan.

Mengukur kinerja bisa menggunakan KPI, tapi bagian terpenting dari KPI adalah adanya sebuah penugasan yang jelas, adanya peran dan tanggung jawab yang secara proporsional logis dan sesuai, serta tentunya ada hadiah dan hukuman yang mengikuti. Hal-hal tadi bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan kuantitatif kontribusi yang harus diberikan, tapi tidak menjadi ukuran kenyamanan dalam bekerja.

Memberi tugas itu tidak mudah, karena si pemberi tugas harus mengetahui kapasitas mereka yang diberi tugas. Ketika terjadi ketimpangan kemampuan/kapasitas, maka yang akan terjadi adalah bottle neck. Mereka yang memiliki kemampuan lebih dari yang lain akan mendapatkan tugas lebih banyak, sementara di sisi lain mereka yang memiliki kemampuan yang lebih kurang akan kekurangan pekerjaan. Jika hal seperti ini terjadi, maka kualitas pekerjaan tidak akan mencapai hasil maksimal, karena yang menjadi target adalah ‘asal deliver’, terlepas dari konteks kualitas yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan persyaratan deliverable. Alasannya adalah klasik: perhatian yang terbagi, waktu yang kurang, dan lelah.

Lalu, bagaimana untuk mengurangi ketimpangan kemampuan. Transfer knowledge saat ini masih menjadi senjata, tapi knowledge management kadang menjadi bagian terlupakan. Sekedar menyampaikan, tapi tidak menghitung apakan mereka yang mendapatkan knowledge paham atau tidak. Upaya yang lain yang bisa dilakukan adalah dengan ‘menyekolahkan’ apakah dengan menugaskan mengikuti seminar, pelatihan, atau bahkan job on training pada beberapa projek yang sedang dijalankan. Respect menjadi bagian penting lain dalam proses ini. Mengetahui tugas dan porsi, menghargai peranan orang lain, menjaga ritme dalam sebuah team, dan memberikan hormat pada anggota tim yang lain adalah sebuah kemampuan yang perlu ditanamkan sejak dini. Empati adalah kunci. Tapi tidak terlupa, bagian penting dari proses ini adalah mendapatkan masukan (input) sumber daya yang memadai.

Pengelolaan adalah seni, bukan urusan teknis saja. Pengelolaan itu harus bisa dinamis dan adaptif, bisa memberikan influence antara proses yang satu dengan proses yang lain, bisa berubah sesuai kondisi di lapangan, bisa mengetahui dengan cepat ketika terjadi pembiasan atau abnormalitas dalam sistem, atau sekedar melakukan observation for improvement untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pengelolaan adalah seni, tidak ada rumus yang tetap dan berlaku umum untuk di setiap tempat, kondisi, dan keadaan. Tapi seni adalah seni, hanya para seniman yang memahami dan mengerti setiap aspeknya.

 

nb. ilustrasi diambil dari Internet, link-nya lupa