Putus sama kartu kredit

Gampang-gampang susah putus ama dia. Gampangnya tinggal datengin card center, gunting, beresin tagihan, kelar. Susahnya, kadang butuh dia buat booking ini dan itu. Hotel, tiket, bahkan bayar tagihan kalau belanja di Internet.

Alhasil, hubungan kami menggantung.

Tagihan semua dilunasin, tapi statusnya dibiarin aja. Memang ini adalah salah satu risiko kalau bergantung sama sistem keuangan yang udah ada.

Tinggal nguatin hati sama niat aja, konsisten. Karena godaannya, hmmmm,….

ketika bulan madu usai

Sangat menarik memang ketika ada harga gawai yang murah, dengan persyaratan cukup berlangganan layanan selama 1 tahun saja. Sayangnya, ketika persyaratan tersebut dibundling, agak-agak nggak enak di ujungnya.

Sudah beberapa kali saya beli gawai dengan sistem bundling ini, sebut saja smartfren andromax. Pertama saya beli Andromax R2 kemudian saya beli lagi Andromax Pureshot+2. Secara operasional lancar-lancar saja, namun secara penggunaan kuota Internet, di sini kita merasa agak-agak ga bebas.

Kedua perangkat tersebut sudah memiliki kapabilitas 4G, sayangnya hanya 1 slot saja dan itu dikunci hanya untuk smartfren. Alhasil, sudah hampir setahun ini kuota 4G dari operator lain tidak dapat saya gunakan (gawai menggunakan 2 slot simcard).

Jadi mikir lagi kalau suatu saat mau beli gawai, karena keterbatasan sinyal di beberapa lokasi atau malah potensi mubazirnya kuota dari provider lain harus diperhitungkan.

Bulan madunya indah, pas awal-awal 100 ribu pulsa smartfren bisa beli kuota sampai lebih dari 10 GB, sekarang hanya 5 GB saja. Sedangkan XL bisa dapat 12 GB dengan harga 89 ribu. Ujung-ujungnya hitung-hitungan juga sih. Ooredo malah bisa nahan kuota Internet (akumulatif), sementara Telkomsel masih konsisten dengan mahalnya 😀

Mana kuota Internet termurah dan reliable, maka kuota Internet itu lah yang saya beli 🙂

Mudik 1438 H

Mudik kali ini waktunya dipercepat, alasannya sederhana. Kebagian travel hanya hari senin (19 Juni 2017) saja. Alhamdulillah, belum dititipi amanah punya kendaraan roda 4, jadi harus mengikuti ketersediaan jadwal travel. Ditambah ada beberapa urusan domestik yang harus diselesaikan terlebih dahulu di lokasi tujuan.

Seminggu sebelumnya datanglah jadwal dadakan pekerjaan, kontak sana-sini, tapi ternyata nggak ada jadwal travel kosong. Alhasil, mudik meninggalkan tim yang harus beberes di Bandung. Duh, ada perasaan bersalah juga di dalamnya, kalau udah rieut gini teh, serasa pengen loncat ke dealer depan komplek terus beli Pajero Sport. Heu heu heu. Cash tanpa credit, tapi sayang, keburu bangun dari mimpi.

Perjalanan relatif cepat, karena memang belum ada antrian di jalan. Hanya ada beberapa hambatan saja seperti pasar tumpah dan beberapa kendaraan besar yang mogok sehingga perjalanan sedikit terhambat.

Untungnya beberapa pekerjaan bisa dilakukan dengan remote, walau memang ada beberapa pekerjaan besar yang seharusnya saya berada di sana. Tapi apa boleh buat.

Sekarang, sudah tiba saatnya mencicipi hidangan kuliner lokal, walau kali ini mudik dengan low budget, hahaha. Sebagai konsekuensi membereskan urusan sama kartu kredit. Yay

Bertabur Bintang tak berarti Menang

Setidaknya itulah yang terjadi pada Persib. Barisan pemain berbandrol mahal, bahkan sampai mendapatkan julukan sebagai tim dengan bench cadangan termewah.

Banyaknya pemain bintang tidak kemudian menjadikan persib sebagai tim selalu menang. Rekor tak terkalahkan (seringnya sih imbang) pecah di Bali, setelah Persib dipaksa takluk oleh Bali United.

Persib harus secepatnya berbenah, khususnya harus disuntik motivasi.

Bermain cantik, bermain semangat, dan bermain penuh gairah. Menang kalah tak jadi masalah, tapi melihat permainan yang tidak monoton, kreatif, agresif, dan mangprang tentunya akan membuat bobotoh bahagia.

Rék éléh rék menang, bobotoh bersama Persib

Pengelolaan

pengelolaan itu juga seni, bukan sekadar urusan teknis

Pengelolaan, orang pintar nyebutnya manajemen, orang lebih pintar nyebutnya sistem, yang lain lagi nyebutnya ngurusin. Segala atribut disebutkan untuk urusan yang satu ini, berbagai tujuan dituliskan, berbagai gaya diterapkan. Padahal, ujung-ujungnya sama, bagaimana meningkatkan produktivitas. Itulah sesungguhnya hal yang dicari.

Meningkatkan produktivitas bukanlah sebuah hal yang berdiri sendiri, ada banyak aspek di dalamnya, mulai dari supply bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang kontinyu dan terkontrol (pengawasan kualitas), sampai dengan distribusi bahan akhir yang menjadi salah satu bagian penting. Percuma Sayang bikin barang bagus kalau ga bisa dijual.

Pengelolaan itu juga seni, bukan sekedar urusan teknis. Ngurus orang itu ga bisa sekedar hanya ngomong A dan B, kadang harus ditunjukkan, kadang harus dibelai, kadang harus dipecut, kadang juga harus diberikan tekanan. Ngurus mesin mungkin lebih mudah, proses maintenance-nya relatif terukur (walau kadang mahal dan harus ditangani oleh orang yang tepat). Tapi mengurusnya tidak perlu pakai perasaan, dan parameternya relatif lebih sederhana dibandingkan ngurus orang. Mengelola sebuah sistem yang berisi manusia sedikit banyak jauh lebih rumit, banyak hal yang bersifat elementer yang perlu dipikirkan.

Mengukur kinerja bisa menggunakan KPI, tapi bagian terpenting dari KPI adalah adanya sebuah penugasan yang jelas, adanya peran dan tanggung jawab yang secara proporsional logis dan sesuai, serta tentunya ada hadiah dan hukuman yang mengikuti. Hal-hal tadi bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan kuantitatif kontribusi yang harus diberikan, tapi tidak menjadi ukuran kenyamanan dalam bekerja.

Memberi tugas itu tidak mudah, karena si pemberi tugas harus mengetahui kapasitas mereka yang diberi tugas. Ketika terjadi ketimpangan kemampuan/kapasitas, maka yang akan terjadi adalah bottle neck. Mereka yang memiliki kemampuan lebih dari yang lain akan mendapatkan tugas lebih banyak, sementara di sisi lain mereka yang memiliki kemampuan yang lebih kurang akan kekurangan pekerjaan. Jika hal seperti ini terjadi, maka kualitas pekerjaan tidak akan mencapai hasil maksimal, karena yang menjadi target adalah ‘asal deliver’, terlepas dari konteks kualitas yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan persyaratan deliverable. Alasannya adalah klasik: perhatian yang terbagi, waktu yang kurang, dan lelah.

Lalu, bagaimana untuk mengurangi ketimpangan kemampuan. Transfer knowledge saat ini masih menjadi senjata, tapi knowledge management kadang menjadi bagian terlupakan. Sekedar menyampaikan, tapi tidak menghitung apakan mereka yang mendapatkan knowledge paham atau tidak. Upaya yang lain yang bisa dilakukan adalah dengan ‘menyekolahkan’ apakah dengan menugaskan mengikuti seminar, pelatihan, atau bahkan job on training pada beberapa projek yang sedang dijalankan. Respect menjadi bagian penting lain dalam proses ini. Mengetahui tugas dan porsi, menghargai peranan orang lain, menjaga ritme dalam sebuah team, dan memberikan hormat pada anggota tim yang lain adalah sebuah kemampuan yang perlu ditanamkan sejak dini. Empati adalah kunci. Tapi tidak terlupa, bagian penting dari proses ini adalah mendapatkan masukan (input) sumber daya yang memadai.

Pengelolaan adalah seni, bukan urusan teknis saja. Pengelolaan itu harus bisa dinamis dan adaptif, bisa memberikan influence antara proses yang satu dengan proses yang lain, bisa berubah sesuai kondisi di lapangan, bisa mengetahui dengan cepat ketika terjadi pembiasan atau abnormalitas dalam sistem, atau sekedar melakukan observation for improvement untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pengelolaan adalah seni, tidak ada rumus yang tetap dan berlaku umum untuk di setiap tempat, kondisi, dan keadaan. Tapi seni adalah seni, hanya para seniman yang memahami dan mengerti setiap aspeknya.

 

nb. ilustrasi diambil dari Internet, link-nya lupa

Kelakar Sang Kiai

Mendingan nonton pornografi dibandingkan dengan mendengar ceramah radikal. Alasannya, kalau nonton pornografi, sambil istigfar[1].

Kelakar Sang Kiai

Gustiii, jika saja sering beristigfar, mungkin nggak akan nonton pornografi. Ada apa dengan logikamu, wahai Kyai 😦

Mungkin saya memang bodoh untuk urusan agama, mungkin ilmu agama saya dangkal. Tapi, jika kelakar ini disampaikan oleh orang berilmu seperti mu, akan menjadi sebuah pembenaran bagi sebagian mereka yang lain. Mereka yang mungkin ilmu agamanya sama dengan saya, dangkal dan bodoh.

 

[1]https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/23/173878085/nu-radikalisme-menyebar-ke-kampus-terutama-masjid-salman-itb

Off Road

DSC_2833.JPG

Ini kali pertama saya ikutan wahana off road. kegiatan ini diselenggarakan dalam acara family gathering perusahaan dan komunitas kami. kegiatannya banyak, mulai dari out bound, jalan santai, off road, hingga berendam di Maribaya resort. Semua kegiatan diselenggarakan di Lembang, Jawa Barat.

Salah satu syarat mengikuti kegiatan ini adalah, panitia tidak memperbolehkan peserta membawa laptop. Semua peserta harus berkomunikasi dengan peserta lain, hahaha. Sebenarnya ini ide bagus dari panitia, walau terasa menyiksa bagi kami yang terbiasa tidak jauh dari tuts keyboard dan layar monitor. Tapi, memang ajib. Trik panitia ini berhasil mendekatkan kami dan kembali mengembalikan kami untuk berkomunikasi, dan kembali ke alam. Biasanya, hanya bisa menonton saja kegiatan off road, tapi kali ini langsung mengalami.

Seru sekali, pengen lagi. Hatur nuhun Panitia 🙂